Aktor senior yang juga politisi, Sophan Sophiaan tewas dalam kecelakaan di Jalan Raya Ngawi-Sragen Km 18-19, tepatnya di Desa Plangor, Kecamatan Kedungalor, Ngawi, Jawa Timur pada Sabtu 17 Mei 2008 di usia 63 tahun.
Mantan Ketua Fraksi PDIP di MPR itu mengembuskan nafas terakhir dalam perjalanan menuju RSUD Sragen setelah motor besar yang dikendarainya terperosok ke dalam lubang besar. Sophan bersama motor besar yang dikendarainya jatuh membentur badan aspal sangat keras lantas tergelincir.
Sebelumnya rombongan motor besar yang berjumlah sekitar 250 pengendara ini tergabung dalam event untuk memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Rencananya, rombongan yang menempuh rute Jakarta-Surabaya-Jakarta ini akan tiba kembali di ibukota pada 20 Mei 2008.
Sebelum kecelakaan di Ngawi, rombongan diberangkatkan dari Kediri hendak menuju Solo. Rombongan motor besar ini dikawal oleh sejumlah petugas patroli dari Kepolisian Resor (Polres) Ngawi yang mengiringi mereka di depan dan di belakang.
Namun nahas terjadi saat melintas di jalur Ngawi-Sragen yang kondisi jalannya rusak berat, berlubang, pecah-pecah dan bergelombang. Saat melintas di jalan menikung dan naik turun tajam, rombongan tetap melaju dengan kecepatan tinggi. Saat tiba di lokasi, tepatnya di sebuah jembatan dekat Monumen Suryo dan berada di tengah kawasan hutan , Sophan yang berkendara beriringan dengan rekan-rekannya tidak menyadari ada lubang sedalam 5-6 cm dengan panjang 5-6 meter di tengah jalan. Dia pun bermaksud menghindari lubang itu namun, roda depan motor Harley Davidson yang dikendarainya terperosok masuk lubang hingga kemudian jatuh.
Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Ngawi AKP Enny Madiasri, saat melaju di jalur Ngawi-Sragen itu di perkirakan Sophan Sophiaan tak terlalu menguasai medan. Menurut saksi mata, kecelakaan itu berlangsung singkat. Setelah kejadian, Sophan langsung dilarikan ke Rumah Sakit dan motor besar yang dikendarainya ikut dibawa.
Sementara rombongan tur yang semula berencana menuju Solo terpaksa menunda perjalanan, ikut ke Rumah Sakit di Sragen. Selanjutnya sekitar pukul 14.00 WIB rombongan menuju ke Solo dan jenazah langsung di terbangkan dari Solo menuju Jakarta.
Secara terpisah , dr Iman Fadli , anggota tim dokter RSUD Sragen, mengatakan bahwa pemeriksaan yang dilakukan , Sophan diketahui mengalami luka memar pada bagian dada. Paha kiri, lengan kanan dan kiri patah, rahang muka patah dan paru-parunya kemasukan darah.
Saat berada di RSUD Sragen, jasad Sophan sempat dibawa ke kamar mayat diiringi segenap anggota rombongan. Terlihat juga artis senior Widyawati, istri Sophan di Rumah Sakit tersebut. Dengan dipapah menggunakan kursi roda, kondisi Widyawati terlihat shock dan sedih ketika mengiringi jenazah suaminy. Widyawati yang juga ikut dalam tur tersebut selamat karena berada di dalam mobil yang mengiringi rombongan. Jasad korban sempat di solatkan di Masjid Al Falah Sragen.
Salah satu peserta rombongan motor besar mengatakan sebelum berangkat dari Kediri, Sophan sebenarnya terlihat kelelahan. Tapi karena rasa tanggung jawabnya sebagai ketua panitia, Sophan tetap memaksakan diri ikut mengendarai motor besar. Pada jalur pulang ini, rombongan iring-iringan sebenarnya dalam kecepatan sedang. Rencananya juga akan mampir di Yogyakarta, Cilacap, Bandung dan kembali lagi ke Jakarta.
Kecelakaan tunggal yang mengakibatkan tewasnya Sophan Sophiaan dipicu kondisi jalan yang rusak. Kapolres Ngawi AKBP Eddy S Tambunan mengatakan bahwa di jalur yang menghubungkan Ngawi-Sragen itu sangat sering terjadi kecelakaan. Pihak Polres sebenarnya sudah berulang kali meminta jalan rusak diperbaiki agar angka kecelakaan menjadi minim, namun perbaikan sering kali hanya tambal sulam. Atas tewasnya Sophan Sophiaan, Kapolres meminta Pemprov Jatim ataupun pemerintah pusat segera memperbaiki jalan utama yang rusak.
Jalan di Ngawi yang rusak cukup panjang. Untuk jalur berbahaya Ngawi-Solo ada sekitar 36 km jalan yang rusak, sehingga rawan kecelakaan. Tingkat kecelakaan di kabupaten Ngawi, terutama di jalur Ngawi-Solo adalah paling tinggi di wilayah Jatim. Pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin untuk menekan jumlah kecelakaan terutama di jalur tersebut.
Dengan banyaknya kecelakaan lalu lintas di jalur Ngawi-Solo, pihaknya mengimbau kepada seluruh pengendara kendaraan bermotor untuk berhati-hati. Selain kondisi jalan yang rusak dan bergelombang, frekuensi kendaraan yang lewat di jalur tersebut sangat tinggi.
Dalam dua pekan terakhir, telah terjadi beberapa kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa, diantaranya tabrakan antara bus dan truk tangki pengangkut susu yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia, ditambah lagi dengan kecelakaan yang mengakibatkan Sophan meninggal dunia.
Jenazah Sophan tiba dirumah duka di Jalan Garuda V Blok C II No. I, Bintaro Jaya, Jakarta Selatan, sekitar pukul 16.00 WIB. Kedatangan jenazah disambut salawat dan isak tangis kerabat dan kolega almarhum. Sementara sang istri, Widyawati, serta kedua putranya, Roma dan Romy, tidak terlihat ketika jenazah tiba.
Jenazah Sophan dibalut bendera merah putih dan ditempatkan di dipan kecil yang terletak di ruang utama rumah duka. Tampak hadir rekan Sophan dari kalangan artis, diantaranya Slamet Rahardjo, Mieke Widjaya, Nani Widjaya, Ratna Riantiarno, Tetty Liz indriyati, Leroy Oesmani, Bob Tutupoli, Jajang C Noer.
Sejumlah pejabat pemerintah yang mengiringi kedatangan jenazah, yaitu Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Sementara itu dibagian muka rumah duka terlihat karangan bunga dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri yang berjejer dengan karangan bunga dari mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, dan Sekjen PDIP Pramono Anum.
Sebelum jenazah tiba, putra sulung almarhum, Romy Sophiaan, mengatakan bahwa ia tidak memiliki firasat sebelum ayahnya meninggal. Kondisi ayahnya sehat ketika hendak berangakat touring. Rekannya, Bob Tutupoli mengaku terakhir bertemu almarhum dua minggu lalu ketika bersama-sama main golf. Bob mengaku Sophan sempat mengatakan sangat prihatin dengan kondisi bangsa ini.

Sang Tokoh Kebangkitan Nasional Dimata Orang-orang Terdekatnya
Ditinggalkan oleh seseorang yang sangat kita cintai untuk selamanya tentu merupakan hal yang tidak diinginkan oleh siapapun. Begitu juga dengan seorang aktris senior, Widyawati. Kepergian sang suami tercinta yang begitu tiba-tiba, membuatnya sangat terpukul. Bahkan ia merasa semua kejadian itu seperti mimpi.
Sedikit kilas kebelakang, Widyawati merupakan sosok wanita yang telah lama berkecimpung di dunia selebritis Indonesia. Ia mulai terkenal sejak tahun 1970-an sampai 1980-an. Wanita yang lahir pada tanggal 12 Juli 1950 itu pun menemukan pasangan hidupnya yaitu Sophan Sophiaan di dunia yang telah melambungkan namanya tersebut. Mereka bertemu di sebuah film yang cukup terkenal kala itu, yaitu Pengantin Remaja tahun 1971. Dalam film itu mereka berperan sebagai sepasang kekasih, Romi dan Yuli. Sejak saat itu nama Widyawati mulai dikenal karena kepiawaiannya memerankan tokoh Yuli. Hingga kini ia telah membintangi lebih dari sekitar 40 judul film. Ketika membintangi film Arini, ia dianugerahi penghargaan sebagai Aktris Terbaik pada ajang Festifal Film Indonesia (FFI) tahun 1987.
Sejak kesuksesan film Pengantin Remaja pula lah Widyawati dan Sophan Sophiaan sering disandingkan dalam berbagai film. Karena seringnya dipasangkan dalam berbagai film, akhirnya timbul lah benih-benih asmara di hati mereka berdua. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengikat janji sehidup semati pada tanggal 9 Juli 1972, bertempat di Masjid Al-Azhar. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai dua orang anak lelaki yaitu Romy dan Roma.
Karir Widyawati sendiri tidak hanya bergelut di dunia film, tapi juga di dunia sinetron Indonesia. Hal ini dibuktikan, salah satunya dengan membintangi sinetron Abad 21 bersama dengan sang suami tercinta yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta di Indonesia.
Pada tahun ini pun, ia bersama sang suami membintangi sebuah film yang berjudul Love, film yang bercerita tentang cinta dari berbagai karakter dengan beragam latar belakang. Film tersebut juga dibintangi oleh bintang-bintang masa kini diantaranya Irwansyah, Acha Septriasa dan bintang-bintang tenar lainnya.
Cobaan hebat harus dialami Widyawati. Setelah 36 tahun bersama, sang suami harus menghadap sang pencipta untuk selamanya. Pria yang sudah menemaninya dalam dalam suka dan duka itu, meninggal dalam kecelakaan tunggal saat mengendarai motor gede-nya. Musibah yang menimpa suaminya itu terjadi di jalan raya Ngawi-Solo KM 18-19 tepatnya di Desa Plangor, Kecamatan Kedungalor, Kabupaten Ngawi sekitar pukul 09.15 WIB. Kepergiannya pada waktu itu adalah dalam rangka menyambut 100 tahun Kebangkitan Nasional yang jatuh tepat pada tanggal 20 Mei 2008. Almarhum Sophan dan Widyawati bersama rombongan yaitu dari Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI), Harley Davidson Club Indonesia (HDCI), dan juga Harley Owners Group (HOG) melakukan touring dengan tema Jalur Merah Putih. Almarhum Sophan Sophiaan sendiri dalam kegiatan tersebut bertindak sebagai Ketua Panitia Hari Kebangkitan Nasional.
Kala itu motor gede yang dikendarai oleh almarhum Sophan Sophiaan jatuh karena ada lubang di sekitar jalan tersebut. Dengan kondisi yang seperti itu, almarhum Sophan pun terpental. Widyawati pun kemudian segera memberitahukan kejadian tersebut kepada anaknya. Pada awalnya, ketika sang anak mendengar papanya mengalami kecelakaan, ia masih biasa saja. Tapi ketika diberitahukan bahwa dari mulutnya banyak sekali keluar darah, dia langsung menangis.
Sebelum kepergian sang suami untuk selamanya, Widyawati sebenarnya tidak pernah merasakan firasat apapun. Ia menganggap tingkah laku almarhum Sophan yang lebih perhatian kepadanya adalah hal biasa. Widyawati pun baru menyadari itu adalah firasat yang diberikan kepadanya. Selain itu menurut Widyawati, almarhum Sophan Sophiaan adalah orang yang sangat sayang dan perhatian sekali dengan keluarga. Bagi almarhum Sophan, keluarga adalah urutan nomor satu dalam kehidupannya.
Bagi Widyawati, musibah yang menimpa dia dan keluarga besarnya tersebut, adalah cobaan yang sangat berat., karena mereka telah ditinggal oleh sosok yang selama ini sangat mereka cintai. Kepergian Sophan Sophiaan untuk selamanya menyisakan duka yang sangat mendalam bagi keluarga mereka. Keluarga besar sendiri masih menganggap musibah ini seperti mimpi karena kejadiannya yang begitu cepat. Padahal kami berdua masih berharap untuk dapat melewati masa emas dari sebuah pernikahan, tapi Tuhan ternyata berkehendak lain.
Oleh karena itu Widyawati lebih memilih bersikap pasrah dalam menghadapi ini semua. Karena dalam prinsipnya, hidup itu adalah bersyukur dan mensyukuri apa yang telah kita terima. Widyawati sendiri ingin meneruskan cita-cita dari sang suami tercinta yang belum sempat diwujudkannya. Karena touring Jalur Merah Putih bukanlah event untuk jalan-jalan tapi lebih dikarenakan ada misi yang dikandung didalamnya. Saya hanya berharap perjuangan yang telah dilakukannya selama ini dapat diteruskan oleh kita semua. Karena apa yang dicita-citakannya selama ini adalah melihat Indonesia yang sejahtera dalam arti yang sesungguhnya, yaitu kesejahteraan yang merata.
Rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat mendatangi kediaman rumah duka pada malam hari. Presiden sendiri memberikan nasihat kepada Romy, anak sulung almarhum bahwa ia harus bangga dengan ayahnya karena beliau memiliki jiwa idealisme yang tinggi, ia pun kagum terhadap cara almarhum memegang prinsip dalam hidupnya. Selain itu kecintaannya terhadap tanah air Indonesia ini sangat besar, melebihi segala-galanya. Sementara sang Ibu Negara, Ani Yudhoyono berusaha menenangkan Widyawati yang terus menangis.
Dari kehidupan almarhum, sangat banyak kesan yang ditinggalkan. Almarhum adalah sosok ayah yang tegas dan bertanggung jawab luar biasa terhadap istri dan anak-anaknya. Almarhum Sophan Sophiaan selalu menanamkan sikap kejujuran kepada istri dan anak-anaknya. Beliau juga begitu perhatian apalagi kalau istri dan anak-anaknya sakit, almarhum seperti orang yang sedang kebakaran jenggot.
Selain itu, menurut Ustad M Subki Al-bughury, S.Sos.i Pimpinan Majelis Dzikir Al-Ma'tsurat, Jakarta menganggap bahwa Almarhum Sophan Sophiaan bisa dibilang jihad fi sabilillah. Seorang politisi yang ikhlas, akan menjalankan amanat Allah semata-mata karena ibadah lillahi ta'ala maka jaminannya adalah surga. Apalagi almarhum sedang dalam perjalanan untuk membawa bangsa ini ke depan, dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Bangsa. Almarhum juga merupakan sosok yang jujur dan cinta keadilan. Kalau kita lihat dari luarnya sudah bagus, pasti dalamnya juga bagus. Yang dimaksud luar atau dalamnya yaitu, Almarhum mengerjakan sesuatu semata-mata karena Allah, dan diniati dengan rasa ikhlas. Maka jaminannya surga, karena orang-orang yang jihad di jalan Allah sangat dijamin, apalagi kalau tidak meninggalkan solat lima waktu. Pasti mendapatkan tempat yang enak di akhir.
Sang Tokoh Kebangkitan Nasional Semasa Hidupnya
Sophan Sophiaan lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 26 April 1944. Ayahnya, Manai Sophiaan, adalah politikus terkemuka Indonesia yang pernah menjadi duta besar di Rusia. Sophan menikah dengan aktris senior Indonesia, Widyawati. Setelah banyak berkiprah di dunia perfilman, Sophan terjun ke panggung politik dan pernah aktif di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Dalam kapasitasnya itu, ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat RI.
Sophan Sophiaan, aktor, sutradara, dan politisi yang dikenal memiliki prinsip yang kuat itu telah tiada. Kecelakaan yang terjadi di jalan raya Ngawi-Solo, km 18-19, tepatnya di desa Plangor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, pada Sabtu (17/5) sekitar pukul 09.15 WIB itu, telah merenggut jiwanya. Sophan memang telah tiada. Tapi jejaknya niscaya akan dikenang oleh insan perfileman dan masyarakat luas dengan citra yang baik.
Mengenangkan Sophan adalah mengenangkan pribadi yang lurus dan jujur. Baginya, hidup adalah hitam dan putih. Itulah sebabnya, ia akhirnya memilih untuk berhenti sebagai anggota DPR yang menawarkan padanya area abu-abu. Area yang membuat manusia gampang gamang, dan jika tak kuat iman tentu saja gampang tergoda oleh iming-iming gemerlap dunia. Area yang membuat pribadi macam Sophan tersiksa selalu.
Sophan yang kala itu menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP) MPR akhirnya menyatakan mengundurkan diri dari keanggotaan MPR dan DPR, terhitung mulai tanggal 1 Februari 2002. Alasannya, ia mengaku mengalami kelelahan jiwa bahkan mengarah ke depresi mental dalam menjalankan kehidupan berpolitiknya sejak tahun 1992.
Semenjak ia masuk ke Senayan sebagai anggota DPR/MPR pada 1992, Sophan sudah dikenal garang dan memiliki prinsip yang kuat. Pada Sidang Umum MPR 1993, misalnya, ia termasuk bintang "panggung politik" yang gigih, bersuara lantang, atau memikat dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.
Karena kevokalannya itulah, ia kerap diteror oleh penelepon gelap. Kepada wartawan Sophan pernah mengungkapkan, sudah sejak 3 tahun lalu dia "menderita bathin" akibat teror yang dilakukan penelepon gelap. Menurut dia, teror yang dilakukan pagi, siang atau malam itu bisa berlangsung 10 kali dalam sehari.
Menurut dia, keluarganya serba salah menghadapi teror itu. Jika telepon itu tak diangkat, takut kalau itu berasal dari keluarga atau kenalannya dan sifatnya penting. Tapi kalau kebetulan "telepon teror", maka sangat menjengkelkan menerimanya.
Pada 20 Juni 1996, Sophan terlihat gagah sekaligus gigih memimpin demonstrannya menuju Monas. Ia bersama Mangara Siahaan (aktor dan anggota DPR kala itu) memimpin long march ribuan massa PDI dari gedung DPP PDI Jalan Diponegoro ke Silang Monas, untuk doa bersama dan menyatakan sikap menentang penyelenggaraan Kongres PDI Medan. Dalam perjalanan, petugas keamanan membarikade massa agar tidak melewati Jl Merdeka Barat. Massa akhirnya berbelok ke Jl Merdeka Selatan.
Setiba di Jl Merdeka Timur, massa dihadang petugas. Sophan tampak menenangkan massa melalui megaphone. Ia berdiri di sebuah mobil dan menghadapi massa. Tapi tiba-tiba dari arah belakang, petugas dan massa saling bentrok. Kekacauan itu terjadi di depan kantor Direktorat Kebudayaan.
Tak sekali itu Sophan jadi "hero" bagi kaumnya. Di waktu lain ia juga berdebat gigih menghadapi pemerintah seperti Menteri Penerangan Harmoko dalam sebuah rapat kerja yang membahas antara lain pembredelan Tempo, Editor, dan Detik.
Kendati bersuara keras di parlemen, terkesan oposan, tapi tidak memperlihatkan perangai kasar. Sophan seorang demonstran yang sopan. Pada aksi yang melibatkan sekitar 5.000 orang itu, ia berkali-kali menenangkan massa yang mulai digerahkan. Ia coba bernegosiasi dengan tentara dan polisi ketika para pengunjuk rasa dihambat melanjutkan perjalanan menuju kantor Menteri Dalam Negeri. Dia pula negosiator dalam pembebasan 48 demonstran yang ditahan. Sophan juga berani menggertak oknum yang berkata-kata kasar kepada pengunjuk rasa. Dia memrotes pemukulan wartawan, termasuk kru televisi CNN yang berdarah-darah.
Sophan memulai karier di film tahun 1970 dengan menjadi figuran dalam Dan Bunga-bunga Berguguran yang disutradarai Wim Umboh. Wim yang membaca potensi laki-laki ini setahun kemudian menawarinya menjadi pemeran utama Pengantin Remaja. Di tengah kesibukan di parlemen, ia masih tampil sebagai aktor dalam Sesal (1994) yang ia sutradarai sendiri. Seorang pengamat film kawakan, ketika membuat katalog film-film Indonesia, sudah mencium bahwa kebanyakan film yang ia sutradarai disisipi dengan semangat politik.
Lama sebelum Mochtar Pakpahan memimpin SBSI, lama sebelum buruh tekstil dan sepatu Tangerang menuntut hak, Sophan pada tahun 1978 telah menyutradarai Bung Kecil tentang kaum buruh. Hampir lima tahun tertahan di Badan Sensor Film, lulus sensor tahun 1983, akhirnya film itu dilarang diputar.
Jebolan Fakultas Hukum Universitas Leipzig Jerman Timur dan Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini memang dibesarkan dalam keluarga yang melek politik. Manai Sophiaan, ayahnya, seorang pentolan Partai Nasional Indonesia (PNI), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS), dan penanda tangan Petisi 50. Kakeknya seorang tokoh pergerakan yang pernah dibuang ke Digul.
Suami aktris Widyawati itu akhirnya terjun ke gelanggang politik beberapa saat menjelang kampanye Pemilihan Umum 1992, atas bujukan Soerjadi, Ketua Umum DPP PDI versi Kongres Medan 20-22 Juni. Tawaran masuk ke PDI itu disampaikan Soerjadi dalam sebuah makan siang di Pizza Hut Mal Pondok Indah Jakarta. Ia memutuskan menerima tawaran itu setelah diyakinkan bahwa ia akan disisipkan menjadi calon jadi.
Semula banyak orang ragu akan kemampuannya di DPR, meskipun untuk memasuki gedung di Jalan Gatot Subroto Jakarta itu kemampuan berbicara mewakili amanat hati nurani rakyat bukan sebuah keharusan. Ada yang menduga keaktorannya di layar film dipakai sebagai pemanis lembaga DPR. Namun, dugaan itu segera berubah. Pada Sidang Umum MPR 1993, ia mengenakan pita hitam sebagai protes atas keputusan fraksi dalam pencalonan presiden.
Suaranya yang vokal selalu mengisi halaman-halaman surat kabar. Ia pun dituding saat anggota Fraksi PDI kompak tidak hadir dalam rapat kerja dengan Menteri Penerangan Harmoko. Atas kelakuan yang satu ini, ia ditegur pemimpin fraksi.
Sophan mengaku jarang berhitung dengan kekuasaan sebelum melontarkan pendapat. "Saya ini wakil rayat. Bila ada yang harus disuarakan, saya suarakan. Tanpa memperhitungkan risiko. Mungkin bagi orang Indonesia sikap ini agak aneh, namun di negara demokratis sikap saya biasa-biasa saja," katanya.
Usai berhenti sebagai anggota dewan. Sophan sempat ditawari jabatan Duta Besar, tapi ditolaknya. "Bagaimana saya bisa menjadi dubes yang baik, kalau saya sendiri sekarang tidak bisa beradaptasi dengan konstelasi politik yang berkembang di Tanah Air akhir-akhir ini. Duta besar itu, kan, jubir (juru bicara)-nya bangsa yang harus menjelaskan berbagai macam hal tentang bangsa dan negaranya," tutur Sophan.
Pada tahun 2005, ia turut bergabung dalam mendirikan partai baru yang bernama Partai Demokrasi Pembaruan bersama-sama dengan Laksamana Sukardi, Arifin Panigoro, Roy BB Janis, Sukowaluyo Mintohardjo, Noviantika Nasution, Didi Supriyanto, Tjiandra Wijaya, Postdam Hutasoit dan RO Tambunan.




LANDASAN HUBUNGAN ANTAR PRIBADI

Dalam hal ini ada beberapa faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik yaitu:
1. Percaya (trust)
2. Sikap mendukung
3. sikap menerima
4. sikap terbuka
LANDASAN HUBUNGAN ANTAR PRIBADI

Kita memahami ada anggapan orang bahwa semakin sering melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, semakin baik hubungan mereka. Asumsi seperti itu tidaklah benar. Dalam hal ini ada beberapa faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik yaitu:
a. Percaya (trust)
Adalah merupakan faktor dalam hubungan interpersonal tersebut. Kembali kita mengingat tahap-tahap dalam pengembangan hubungan yang dinyatakan oleh de Vito yaitu pada tahap awal yaitu tahap perkenalan sampai tahap kedua yaitu peneguhan ‘percaya’ ini merupakan hal yang paling penting menentukan efektifitas komunikasi. Percaya adalah mengandalkan perilaku orang lain untuk mencapai tujuan yang dikehendaki yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko.
Unsur-unsur percaya:
1. Ada situasi yang menimbulkan resiko
2. Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada perilaku orang lain.
3. Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.
b. Sikap mendukung
Adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Sikap defensif terjadi ketika pelaku komunikasi dalam suatu hubungna tertentu berusaha mempertahankan diri.
Evaluasi versus Deskripsi
Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain, memuji atau mengecam. Dalam mengevaluasi kita mempersoalkan nilai dan motif orang lain. Bila kita menyebutkan kelemahan orang lain, mengungkapkan betapa jelek perilakunya meruntuhkan harga dirinya kita akan melahirkan sikap defensif. Sedangkan sikap deskripsi artinya menyampaikan perasaan dan persepsi anda tanpa menilai. Deskripsi dapat terjadi juga ketika kita mengevaluasi gagasan orang lain, tetapi orang ‘merasa’ bahwa kita menghargai diri mereka.

c. Sikap menerima
Adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan. Menerima adalah sikap yang melihat orang lain sebagai manusia, sebagai individu yang patut dihargai. Sikap menerima tidaklah semudah yang dikatakan. Kita selalu cenderung menilai dan sukar menerima. Menerima berarti tidak menilai pribadi orang berdasarkan perilakunya yang tidak kita senangi. Betapa pun jeleknya perilaku dia menurut kita, kita tetap berkomunikasi dengan dia.
d. Sikap terbuka
Adalah orang yang memiliki sikap sebagai berikut:
1. Menilai pesan secara obyektif
2. Membedakan dengan mudah melihat nuansa-nuansa, dll
3. Mencari informasi dari berbagai sumber
4. Bersedia mengubah kepercayaannya kalau memang orang lain yang benar
5. Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.







KOMUNIKASI NON VERBAL

1 . Ekspresi wajah
Ekspresi wajah mengkomunikasikan macam-macam emosi selain juga kualitas atau dimensi emosi. Gambar di atas menunjukkan emosi kebahagiaan.
2 . Isyarat tangan
Widyawati pada gambar di atas melambaikan tangannya kepada masyarakat dengan makna sapaan non verbal.
KOMUNIKASI NON VERBAL

a. Ekspresi wajah
Mengkomunikasikan macam-macam emosi selain juga kualitas atau dimensi emosi. Kebanyakan priset sependapat dengan Paul Ekman, Wallace V. Friensen dan Phoebe Ellsworth dalam menyatakan bahwa pesan wajah dapat mengkomunikasikan sedikitnya”kelompok emosi” berikut: kebahagiaan, keterkejutan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan/penghinaan. Dale Leathers mengemukakan bahwa gerakan wajah mungkin juga mengkomunikasikan kebingungan dan ketetapan hati.

b. Isyarat tangan
Kita sering menyertai ucapan kita dengan isyarat tangan. Dalam menelepon misalnya, meski lawan bicara tidak terlihat kita suka menggerak-gerakkan tangan. Untuk memperteguh pesan verbal, orang-orang Perancis, Italia, Spanyol, Meksiko dan Arab termasuk orang-orang yang sangat aktif menggunakan tangannya, dibandingkan Amerika dan Inggris.


EMPATI

Suasana keluarga Almarhum Sophan Sophiaan menimbulkan sikap empati bagi masyarakat yang ikut merasakan juga rasa duka dan kehilangan keluarga yang ditinggalkan Almarhum.

EMPATI

Definisi yang dikemukakan oleh Henry Backrack adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orag lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain dan melalui kacamata orang lain itu. Orang yang empati mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka serta harapan dan keinginan mereka. Orang yang empati akan membuat dirinya mampu menyesuaikan komunikasinya dengan orang lain (Devito).
Pengkomunikasian empati kepada orang lain dapat dilakukan secara verbal ataupun non verbal. Devito mengemukakan cara mengkomunikasikan empati secar non verbal melalui:
1. Keterlibatan dengan orang lain itu melalui ekspresi wajah serta gerak-gerik yang sesuai
2. Konsentrasi terpusat melalui kontak mata, postur tubuh yang penuh perhatian dan kedekatan fisik
3. Sentuhan atau belaian yang sepantasnya
Sedangkan metode yang tepat untuk menyampaikan empati secara verbal menurut Jaerry Authier dan Kay Gustafon adalah dengan cara berikut ini:
1. Merefleksikan balik kepada pembicara balik perasaan yang menurut kita sedang dialami oleh tersebut
2. Membuat pernyataan tentatif dan bukan mengajukan pertanyaan
3. Pertanyakan pesan yang berbaur, pesan yang komponen verbal dan non verbalnya saling bertentangan
4. Melakukan pengungkapan diri yang berkaitan dengan peristiwa dan perasaan orang tersebut untuk mengkomunikasikan pengertian dan pemahaman terhadap apa yang dialami orang tersebut.



PEMELIHARAAN HUBUNGAN

Hubungan keluarga Almarhum Sophan Sophiaan termasuk dalam dimensi Tradisional.

PEMELIHARAAN HUBUNGAN

Komunikasi dalam perkawinan
Seorang peneliti komunikasi perkawinan yang terkenal adalah May Anne Fitzpatrick. Penelitiannya menemukan bahwa pasangan-pasangan yang sudah menikah cenderung berkumpul kedalam tiga kelompok berbeda di sepanjang tiga dimensi, yaitu:
1. Tradisional
Cenderung konvensional dalam pandangan-pandangan mereka tentang perkawinan dan lebih memberikan nilai pada stabilitas dan kepastian dalam hubungan peran daripada variasi dan spontanitas. Mereka memiliki rasa saling ketergantungan yang kuat dan banyak berbagi kebersamaan. Tidak terlalu banyak konflik dalam perkawinan tradisional karena kekuasaan dan pengambilan keputusan di distribusikan sesuai dengan norma-norma yang sudah biasa.

2. Independen
Individu-individu ini cenderung tidak konvensional dalam pandangan-pandangan mereka tentang perkawinan dan tidak begitu saling mengandalkan satu sama lain. Meskipun mereka mungkin menghabiskan waktu bersama-sama dan banyak berbagi, mereka tetap menghargai otonomi masing-masing dan seringkali memiliki ruangan-ruangan terpisah dalam rumah mereka.

3. Terbagi
Individu-individu ini ambivalen tentang peran-peran dan hubungan mereka. Mungkin mereka memiliki pandangan yang tradisional dan independen, tetapi mereka tidak terlalu independen dan tidak banyak berbagi. Karena itulah Fitzpatrick menyebut jenis ini sebagai pasangan-pasangan yang bercerai secara emosional. Mereka punya pendapat dan bisa jadi sangat argumentatif, tetapi konflik-konflik tidak berlangsung lama karena mereka cepat mundur dari konflik.


DAFTAR PUSTAKA

1. Surat Kabar Seputar Indonesia, Edisi Minggu 16 Mei 2008 Hal 1 & 11
2. Tabloid Realita, Edisi 19 Thn II 26 Mei – 8 Juni 2008 Hal 4 - 5
3. http://www.waspada.online.com
4. http://www.kompas.com

Free Website Hosting

Free Website Hosting

0 komentar: