Sejarah dan Perkembangan Propaganda
Kata ‘propaganda’ berasal dari bahasa Latin. Awalnya berarti ‘gagasan untuk disebarkan ke sekeliling’. Namun dalam Perang Dunia I, artinya berubah menjadi ‘gagasan politik yang ditujukan untuk menyesatkan’.
Propaganda mirip iklan dalam beberapa hal. Namun iklan biasanya mencoba menjual sesuatu sedangkan propaganda bersifat politik. Propaganda sering digunakan selama perang. Bisa berbentuk poster, iklan TV, dan pengumuman radio. Terkadang mencegah orang di suatu negeri bahagia - memberitahu bahwa negeri mereka sedang berperang dan memberitahu betapa pentingnya bila musuh dikalahkan. Terkadang mencoba menimbulkan rasa benci musuh. Informasi itu bisa memberitahu orang bahwa musuh mereka jahat atau menunjukkan mereka bukanlah manusia. Terkadang pemerintah memberi propaganda pada musuh - memberitahu mereka bahwa perang sedang berlangsung sengit dan mereka mesti menghentikan perang. Saat sebuah negara tidak dalam keadaan perang, propaganda tetap bisa digunakan. Pemerintah bisa menggunakan propaganda untuk mengubah apa yang dipikirkan orang mengenai keadaan politik. Suatu kelompok bisa mencoba mengubah cara berlaku orang terhadap sebuah persoalan. Propaganda mirip dengan sensor. Bila propaganda mencoba memberi orang gagasan yang salah, sensor mencoba menghentikan orang melihat sesuatu. Propaganda juga digunakan untuk memenangkan sesuatu dengan menyiasatinya. Beberapa orang berkata bahwa aliran sesat menggunakan propaganda untuk membujuk orang mengikuti mereka. Pesan-pesan propaganda dipandang sebagai kebohongan, manipulatif, dan sebagai indoktrinasi.
Setelah Perang Dunia kedua, propaganda semakin dipelajari dan diyakini mampu merubah dan membentuk opini masyarakat. Propaganda Budaya diyakini mampu merasuk dan merubah gaya hidup dan cara pandang masyrakat. Ketika PD II berakhir, dan dilanjutkan dengan masa-masa perang dingin tentunya kita masih ingat bagaimana Amerika memanfaatkan media filem, televisi dan majalah untuk melancarkan propaganda budaya negara tersebut. Saat itu kita mengenal tokoh filem Rambo sebagai pahlawan Amerika yang berhasil mematahkan perjuangan Vietcong (Komunis) dalam membentuk vietnam menjadi negara komunis. Setelah PD II inilah kata ”propaganda” memiliki makna negatif.
Bahkan, Ilmu Komunikasi yang didalamnya terdapat kekhususan bidang propaganda, dalam sejarahnya tak terlepas dari pengaruh propaganda budaya barat.
Islam dalam Perkembangan Ilmu Komunikasi
Ilmu Komunikasi telah jauh berkembang pada masa-masa kejayaan Islam, komunikasi di dunia Islam pun sebenarnya telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Peradaban umat Islam dalam kaitannya dengan perkembangan komunikasi telah mencatatkan sejarah yang cukup menakjubkan.
Hubungan antara Timur dan Barat selama perang Salib (1100-1300 M ) sangat penting untuk perkembangan komunikasi dan ilmu pengetahuan di Eropa. Karena pada waktu ekspansi, Arab telah mengambil alih kebudayaan Byzantium, Persia, dan Spanyol, sehingga tingkat kebudayaan Islam jauh lebih tinggi dari pada kebudayaan Eropah (Brower, 1982;41). Universitas Bagdad, Damsyik, Beirut, dan Kairo menyimpan dan memberikan warisan ilmiah dari India, Persia, Yunani, dan Byzantium, sehingga Eropah menerima warisan filsafat Yunani melalui orang Arab yang terlebih dahulu mempelajarinya. Karena bangsa Arab telah menterjemahkan karya-karya fisuf termasyur seperti Plato, Hipokrates dan Aristoteles. Sekitar abad ke-14 pada zaman dinasti Yuan (1260-1368), pengaruh Islam ditandai dengan peneliti di bidang astronomi pertama yang mendirikan observatorium, yaitu Jamal-Al-Din.
Pada zaman nabi Muhammad SAW (570 M-632 M), penyebaran Islam berlangsung dalam waktu yang relatif singkat (8-9 M). Muhammad melakukan dakwahnya ke Mekah pada tahun 610 M. Dalam tempo 25 tahun, Muhammad beserta pengikutnya (yang disebut sebagai Muslim), mengambil alih kekuasaan di kawasan Arab, dan Islam kemudian berkembang dengan sangat pesatnya. Pada sekitar tahun 650 M, Arab, seluruh daerah timur tengah, serta Mesir dikendalikan oleh orang-orang Islam, dan pada tahun 700 M, Islam mendominasi area besar mulai dari daratan China dan India di timur sampai Afrika Utara dan Spanyol di barat. Cepatnya perkembangan Islam bisa jadi merupakan dampak dari penggunaan dakwah-dakwah yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam, seperti; dakwah yang berisi tentang jihad fisabilillah, yaitu jaminan untuk masuk surga bagi mereka yang mati dalam usahanya untuk memperjuangkan Islam. Artinya terdapat bentuk komunikasi yang efektif sehingga dapat mempengaruhi keyakinan jutaan umat dalam waktu yang sangat singkat.
Bentuk komunikasi ini (metode komunikasi penyebaran Islam zaman itu) di awali dengan adanya perintah dari Allah kepada Nabi Muhammad untuk memberikan peringatan (dalam hal ini berdakwah) kepada umnat manusia untuk percaya kepada Allah. Awalnya komunikasi itu dilakukan secara diam-diam lalu dilanjutkan secara terbuka seiring dari wahyu berikutnya yang memerintahkan Nabi untuk berdakwah secara terang-terangan (Q.S Al-Hijr;94-95).
Adapun komunikasi melalui media tulisan, sebenarnya telah dirintis oleh Rasulullah, yaitu ketika beliau mengirimkan surat yang isinya ajakan untuk memeluk Islam kepada para raja di Eropah. Sebagai contoh, nabi pernah mengirimkan surat dakwah kepada raja Hiraqla (raja di Roma Timur) yang bernama Hirakles, raja Habsyi yang bernama Najsyi, dan lain-lain. Dalam setiap suratnya, selalu dibubuhi stempel yang terbuat dari perak yang berukirkan tulisan “Muhammadurrasulullah”. Dengan contoh ini, maka Rasulullah telah merintis sistem jurnalistik dalam melakukan komunikasi Islam sebagai bentuk dakwah. Dalam perkembangannya, komunikasi telah sedemikian maju, contoh lain dalam hal diskusi yang dilakukan Rasulullah kepada sahabat-sahabatnya, yang merupakan bagian dari bentuk komunikasi kelompok.
Propaganda Barat dalam Ilmu Komunikasi
Keberhasilan indoktrinisasi barat dalam mempropagandakan keberadaan ilmu komunikasi berasal dan dikembangkan oleh pihak barat dapat kita temukan pada penggunaan istilah-istilah latin/english seperti pada disiplin ilmu lainnya (peng-indetifi-kasian dalam biologi, kedokteran ataupun kimia) contoh social penetration theory, dll
Terlepas dari tulisan diatas, adalah wajar, bila kebanyakan para mahasiswa Ilmu Komunikasi mungkin akan kebingungan bila ditanyakan tentang nama-nama dan keberadaan cendekiawan-cendekiawan Islam yang turut berjasa dalam perkembangan Ilmu Komunikasi. Hal ini tak lepas dari berhasilnya indoktrinisasi barat dalam mempropagandakan keberadaan ilmu berasal dan dikembangkan oleh pihak barat.
Ilmu Komunikasi yang mempelajari propaganda sendiri bahkan tak mampu melepaskan diri dari cengkeraman pengaruh propaganda tersebut. Benar bila ada argumen bahwa komunikasi merupakan fenomena yang sudah sangat lama terjadi dan baru dikaji secara utuh sebagai suatu ilmu pada abad ke-19 di daratan Amerika. Namun sedikit sekali yang menyajikan Islam sebagai rujukan Ilmiah dalam pengembangan sebuah Ilmu Komunikasi.
Para Ilmuwan Komunikasi dan Tenaga pengajar di Universitas- universitas terkemuka diseluruh Dunia yang mengajarkan Komunikasi sebagai Ilmu di Institusi mereka, sedikit sekali yang menyajiikan rujukan Islam dalam literatur dan silabus Ilmu Komunikasi yang mereka susun, salah satu alasan populer saat ini adalah perlunya pembatasan antara Agama dan Ilmu. (Sebuah bentuk berhasilnya propaganda sekularisme-bagian dari propaganda westernisasi). Propaganda sekularisme sendiri awalnya adalah buah pikiran, yang berpaham kebebasan berfikir Ilmiah dan terbebas dari kekuasaan gereja yang absolut pada masa itu.
Tentunya, keberhasilan propaganda westernisasi dalam bidang keilmuan akan mempersempit cara pandang kita dan secara langsung selanjutnya akan berpengaruh terhadap perkembangan Ilmu Komunikasi itu sendiri.
Mungkin kita (pakar, pemerhati dan peneliti bidang ilmu komunikasi) bisa belajar dari teman-teman kita dari disiplin ilmu ekonomi yang saat ini sedang gencar-gencarnya mempelajari dan mengembangkan ekonomi berbasis syariah. Sudah saatnya kita mengembangkan ilmu komunikasi melalui prespektif syar’i yang mungkin lebih mengarah kepada dakwah.

0 komentar: