Manusia diberi keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan jenis makhluk lainnya. Keistimewaan tersebut adalah kemampuan manusia untuk berfikir. Dengan kemampuan untuk berfikir inilah manusia dapat memikirkan berbagai macam realitas secara mendalam. Dengan berfikir manusia sadar akan dirinya, siapa saya, apa yang harus saya perbuat dan sebagainya, sehingga manusia akan berfikir sebelum melakukan tindakan. Manusia akan berfikir dan menimbang apakah perbuatan yang dilakukannya sesuai dengan harkat kemanusiaannya atau justru sebaliknya.

PENGERTIAN ETIKA
Etika sebagai salah satu cabang pokok ilmu filsafat menelaah dan menyelidiki gejala-gejala yang timbul dalam diri manusia baik sebagai individu yang mandiri maupun sebagai anggota masyarakat. Etika mencoba untuk meneliti tingkah laku manusia yang dianggap merupakan cerminan dari apa yang terkandung dalam jiwanya atau dalam hati nuraninya.
Menurut William Benton, dalam Encyclopedia Britannica yang terbit tahun 1972, Etika (berasal dari bahasa yunani, Ethos yang berarti karakter) adalah studi yang sistematis dari konsep-konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah dan sebagainya atau tentang prinsip-prinsip umum yang membenarkan kita dalam penerapannya di dalam segala hal disebut juga filsafat moral (dari kata latin “mores” yang artinya adat istiadat).
Dari pengertian di atas, kata etika sering juga diartikan dengan moral. Kedua pengertian itu (etika dan moral) sering kali diidentikkan, padahal sesungguhnya kedua kata itu dalam penggunaannya dapat dibedakan. Etika lebih ditujukan pada suatu system pengkajian, suatu sudut pandangan yang dalam Islam lebih dikenal Ilmu Akhlak. Sedangkan moral lebih ditujukan pada suatu yang dikaji atau tingkah laku perbuatan itu sendiri, di dalam Islam sering disebut Akhlak. Karena itu etika disebut juga filsafat kesusilaan atau filsafat moral, yang berarti filsafat nilai atau aksiologi yang membicarakan nilai baik-buruk, sehingga etika merupakan filsafat yang sifatnya praktis. Pengertian antara etika dan moral dapat dipisahkan, tetapi dalam penggunaan diantara keduanya saling beriringan.
Sedangkan menurut Louis O Kattsof dalam bukunya Elements of philosophy yang diterbitkan tahun 1953, etika adalah cabang aksiologi yang pada pokoknya mempersoalkan tentang predikat baik dan buruk (dalam arti susila dan tidak susila). Sebagai topic yang khusus, etika juga mempersoalkan sifat-sifat yang menyebabkan seseorang berhak untuk disebut susila atau berbudi. Sifat-sifat atau atribut-atribut tersebut dinamakan berbudi (kebajikan) sebagai lawan dari kejahatan yang menunjukkan sifat-sifat yang apabila dipunyai oleh seseorang maka orang tersebut disebut sebagai orang yang tidak bersusila.

Pada prinsipnya semua definisi tentang etika membicarakan masalah baik dan buruk, susila atau tidak susila, bermoral atau tidak bermoral dari perbuatan dan tingkah laku manusia, berbicara tentang kelakuan si A yang tidak etis atau sebaliknya, pembicaraan atau perkataan antar manusia inipun dapat disebut etis atau tidak etis.
Menurut Kattsof, ragam definisi etika ditinjau dari pengertiannya dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Etika Deskriptif
Dalam pengertian ini etika bersangkutan dengan nilai dan ilmu pengetahuan yang membicarakan masalah baik dan buruknya tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat. Etika bersangkutan dengan pencatatan terhadap corak-corak predikat serta tanggapan-tanggapan kesusilaan yang dapat ditemukan dalam masyarakat. Sehingga ilmu ini hanya bersifat pemaparan atau penggambaran saja.
2. Etika Normatif
Etika sering dipandang sebagai suatu ilmu yang mengadakan ukuran-ukuran atau norma-norma yang dapat dipakai untuk menanggapi atau menilai perbuatan dan tingkah laku seseorang dalam bermasyarakat. Etika normatif ini berusaha mencari ukuran umum bagi baik dan buruknya tingkah laku.
3. Etika Kefilsafatan
Analisis tentang apa yang orang maksudkan bilamana mempergunakan predikat-predikat kesusilaan. Apa yang disebut perbuatan etis, tidak etis dan sebagainya.
Analisis ini diperoleh dengan mengadakan penyelidikan tentang penggunaan yang sesungguhnya dari predikat-predikat yang terdapat dalam pernyataan secara lebih jelas kefilsafatan mempersoalkan tentang arti-arti yang dikandung oleh istilah-istilah kesusilaan yang dipergunakan oleh orang dalam membuat tanggapan-tanggapan kesusilaan.
Franz Magnis Suseno, dalam buku Etika Dasar menyebut beberapa jenis norma. Norma adalah peraturan atau pedoman hidup tentang bagaimana seyogyanya manusia harus bertingkah laku dan berbuat dalam masyarakat. Norma-norma dapat dibedakan:
1. Norma teknis dan permainan
Norma teknis dan permainan hanya berlaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu atau untuk kegiatan-kegiatan sementara dan terbatas.
2. Norma yang berlaku umum, dapat dibedakan:
a. Norma kepercayaan / keagamaan
Dasar dari norma ini adalah kitab suci. Tujuannya adalah agar manusia beriman. Adapun sanksinya tidak di dunia, tapi di akhirat nanti.
b. Norma moral
Norma moral berhubungan dengan manusia sebagai pribadi. Pendukung dari norma ini adalah hati nurani manusia. Hati nurani ini sangat berperan dalam perilaku lahiriah manusia. Pelanggaran terhadap norma itu adalah penyesalan, karena tidak ada kekuasaan dari luar diri manusia yang mengancam. Tujuannya adalah penyempurnaan manusia sebagai manusia.
c. Norma sopan santun
Norma ini di dasarkan atas kebiasaan, kesopanan, kepantasan atau kepatutan yang berlaku dalam masyarakat. Tujuannya untuk penyempurnaan manusia sebagai masyarakat, yaitu kedamaian, ketertiban, keamanan dalam hidup bersama.
d. Norma hukum
Pelaksanaanya dapat dituntut dan dipaksakan. Sedangkan pelanggarannya ditindak dengan pasti oleh penguasa sah dalam masyarakat. Dasarnya adalah peraturan perundang-undangan, yang dapat dipastikan mulai kapan berlakunya.

B. MAZHAB-MAZHAB ETIKA
Pengertian mazhab menurut kamus bahasa Indonesia dapat berarti:
- Haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam (dikenal 4 mazhab yaitu mazhab hanafi, mazhab hambali, mazhab maliki dan mazhab syafii), kecenderungan umat Islam di Indonesia banyak yang menganut mazhab syafii.
- Golongan pemikir yang sepaham dengan teori, ajaran atau aliran tertentu di bidang ilmu, cabang kesenian, dan sebagainya dan yang berusaha untuk memajukan hal itu.
Pengertian mazhab dalam etika dapat diartikan pada pengertian yang kedua di atas. Etika selalu berhubungan dengan hal-hal yang baik dan buruk, antara hal-hal yang susila dan tidak susila, ataupun antara hal-hal yang boleh dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan.
Mazhab-mazhab dalam etika diantaranya adalah:
1. Egoisme
Kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan yang berlaku dalam egoisme adalah bahwa tindakan atau perbuatan yang paling baik adalah yang member hasil atau menfaat bagi diri sendiri untuk jangka waktu selama diperlukan atau dalam waktu yang lama. Egoisme secara praktis Nampak dalam:
1.1 Hedonisme
Tujuan dari hedonisme adalah memperoleh kesenangan. Kata ini berasal dari bahasa Yunani hedone yang berarti kesenangan. Tokoh hedonisme adalah Eudoxus dan Epicurus.
Menurut Epicurus: hal yang baik adalah hal yang memuaskan keinginan manusia, teristimewa keinginan akan kesenangan. Hal yang sering dianjurkan adalah agar manusia mempergunakan waktunya sebanyak mungkin untuk bersenang-senang. Hedonisme dapat dikelompokkan dalam:
a. Hedonisme Etis
Kesenangan merupakan keharusan tindakan, bagaimana seharusnya orang bertingkah laku dan berbuat.
b. Hedonisme Psikologis
Sudah merupakan fakta kejiwaan bahwa manusia dalam hidupnya selalu berusaha untuk mencari kesenangan.
c. Hedonisme Egois
Mementingkan kesenangan diri sendiri.
Setiap orang memang seharusnya mencari kesenangan yang sebanyak mungkin.
d. Hedonisme Altruistis
Kaidah kesusilaan yang berlaku adalah segala perbuatan yang menghasilkan kesenangan yang sebesar-besarnya bagi jumlah manusia yang sebanyak-banyaknya.
e. Hedonisme Universalistis
Setiap manusia seharusnya mencari kesenangan yang sebanyak mungkin bagi kebahagiaan masyarakat banyak.
f. Hedonisme Estetis
Faktor penentu baik dan buruknya suatu perbuatan adalah adanya suatu keindahan. Nilai tertinggi dari suatu kesusilaan adalah merasa senang dengan hal yang indah,
g. Hedonisme Religius
Religi diperlukan untuk membangkitkan perasaan-perasaan tertentu yang memberikan keinsyafan tentang kesenangan. Manusia akan merasa senang apabila menjalankan kewajiban keagamaan, sehingga manusia yang lain akan menilainya sebagai orang yang baik.
h. Hedonisme Analitis
Istilah baik dan menyenangkan berarti sama, maka suatu yang baik adalah yang menghasilkan konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan.


i. Hedonisme Sintetis Empiris
Diumpamakan bahwa istilah baik tidak sama dengan menghasilkan kesenangan tetapi pengalaman menunjukkan bahwa tindakan itu menghasilkan kesenangan.
j. Hedonisme Sintetis Apriori
Istilah baik dan menghasilkan kesenangan dianggap tidak sama arti tetapi yang satu perlu mempunyai hubungan dengan yang lain dan dikualifikasikan dengan yang lain. Tindakan baik itu tidak hanya menghasilkan kesenangan , melainkan harus menghasilkan kesenangan.
1.2 Eudaemonisme
Eudaemonisme berasal dari bahasa Yunani eudaemonia yang berarti bahagia atau kebahagiaan yang lebih tertuju pada rasa bahagia. Tujuan eudaemonisme adalah memperoleh kebahagiaan, baik kebahagiaan badaniah maupun kebahagiaan rohaniah. Perbedaan pokok dengan hedonisme adalah pada kebahagiaan rohaniah. Pangkal dari kebahagiaan adalah pengalaman. Sesuai dengan kodratnya, manusia hidup selalu mengejar suatu kebahagiaan, yang merupakan tujuan dalam hidupnya. Kebahagiaan tidak akan tercapai apabila manusia hanya mengejar kesenangan saja.


Aristoteles berpendapat bahwa kebahagiaan tercapai dalam kegiatan yang merealisasikan bakat-bakat dan kesenangan manusia, setiap manusia harus hidup dengan mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada pada dirinya sehingga dengan demikian kebahagiaan yang merupakan tujuan utama akan tercapai.
2. Deontologisme
Deontologisme berasal dari bahasa Yunani deon yang berarti yang diharuskan atau yang diwajibkan. Deontologisme berpendapat bahwa baik buruknya atau benar salahnya suatu tindakan tidak diukur berdasarkan akibat yang ditimbulkannya, melainkan berdasarkan sifat-sifat tertentu dari tindakan dan perbuatan yang dilakukan. Suatu tindakan tidak dinilai dari hasil yang dicapainya, tetapi dinilai dari kewajiban moral dan keharusan. Baik buruknya suatu perbuatan tidak dinilai dari hasil suatu kerjanya, tetapi yang dinilai adalah sejauh mana ia berusaha untuk mendapatkan hasil tersebut. Bentuk deontologis ada 2, yaitu:
2.1 Deontologisme Tindakan
Baik dan buruknya suatu tindakan dapat dirumuskan atau diputuskan dalam dan untuk situasi tertentu dan sama sekali tidak ada peraturan umum. Istilah lain yang sering disebut sehubungan dengan teori ini adalah etika situasi. Setiap situasi itu unik, antara situasi yang satu dengan situasi yang lain berlainan, sehingga tidak mungkin ada suatu peraturan yang berlaku umum untuk semua orang.
Dalam kehidupan ini tidak pernah ada dua situasi yang persis sama, selalu terjadi perubahan situasi dan selalu bersifat individual subjektif.
2.2 Deontologisme Peraturan
Kaidah moral yang berlaku adalah baik buruknya suatu tindakan diukur pada satu atau beberapa peraturan yang berlaku umum, dan bersifat mutlak, tidak dilihat dari baik buruknya akibat perbuatan itu. Apabila ada satu atau beberapa peraturan yang selalu berbunyi jangan membunuh, maka perbuatan membunuh itu harus selalu dihindarkan dalam keadaan apapun. Apabila kita ingin menjadi orang yang bersusila dan selalu ingin dikatakan baik, maka peraturan umumlah yang harus kita taati dan kita jalankan.
3. Utilitarianisme
Mazhab ini berpendapat bahwa baik buruknya tindakan seseorang diukur dari akibat yang ditimbulkan. Yang menjadi tujuan adalah hasil atau konsekuensi yang timbul akibat perbuatan yang dikerjakan. Akibat baik berarti menguntungkan dan bermanfaat terutema bagi kepentingan banyak manusia, dan menghindarkan akibat-akibat buruk. Istilah lain untuk menyebut mazhab ini adalah teleologis. Ada 2 bentuk utilitarianisme, yaitu:




3.1 Utilitarianisme Tindakan
Bentuk ini menganjurkan agar segala tindakan manusia akan mengakibatkan sedemikian rupa kelebihan akibat baik yang sebesar mungkin. Semua cara harus ditempuh dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dari tindakan tersebut. Utilitarianisme tindakan melihat norma-norma moral yang universal tidak berlaku lagi. Yang terpenting adalah pergunakanlah semua cara dan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan, singkatnya tujuan menghalalkan semua cara.
3.2 Utilitarianisme Peraturan
Semboyan dari utilitarianisme peraturan adalah bertindak selalu sesuai dengan kaidah-kaidah yang penetapannya menghasilkan kelebihan akibat-akibat baik yang sebesar mungkin dibandingkan dengan akibat-akibat buruk. Suatu tindakan dianggap baik apabila pada akhirnya menghasilkan kelebihan akibat baik bagi berlakunya suatu peraturan.
4. Theonom
Mazhab ini mengatakan bahwa kehendak Allah adalah merupakan ukuran baik buruknya suatu tindakan. Perbuatan susila harus mendasarkan diri pada kehendak dan sifat-sifat Allah, sehingga teori ini sering disebut Theological Theory. Ada 2 macam teori ini, yaitu:
4.1 Teori Theonom Murni
Kaidah umum yang berlaku dalam teori ini adalah: suatu perbuatan dianggap benar atau susila apabila sesuai dengan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah kepada manusia. Allah adalah sumber kebaikan, sumber kebijaksanaan, maka apabila manusia ingin menjadi lebih baik dan bijaksana ia harus mengikuti perintah Allah.
4.2 Teori Umum Kodrat
Seorang penganut idealism berbangsa Amerika, W.M Urban dalam bukunya Fundamental of Ethics berpendirian bahwa prinsip yang mendasari penilaian kesusilaan ialah perwujudan diri. Prinsip tersebut bertolak dari kenyataan yang tidak tersangsikan lagi bahwa manusia sesungguhnya merupakan diri. Menurut Urban, tujuan hidup manusia adalah penyempurnaan dirinya.

C. PENGERTIAN ETIKA KOMUNIKASI
Richard L. Johannesen memaparkan adanya tujuh perspektif dalam penilaian etika komunikasi insani, yaitu:
1. Perspektif Politik
Karl Wallace memandang ada 4 nilai yang mendasar bagi berlangsungnya sistem politik Amerika:
- Penghormatan atau keyakinan akan wibawa dan harga diri individual
- Keterbukaan atau keyakinan pada pemerataan kesempatan
- Kebebasan yang disertai tanggungjawab
- Keyakinan pada kemampuan setiap orang untuk memahami hakekat demokrasi
Untuk mewujudkan ke-4 nilai diatas, diperlukan suatu pedoman etika, yaitu:
- Mengembangkan kebiasaan meneliti yang tumbuh dari pengenalan bahwa selama kita berkomunikasi, kita adalah sumber primer walau bukan satu-satunya argumen dan informasi tentang subjek yang dibicarakan
- Menumbuhkan kebiasaan bersikap adil dengan memilih dan menampilkan fakta dan pendapat secara terbuka
- Mengutamakan motivasi umum daripada motivasi pribadi
- Menanamkan kebiasaan menghormati perbedaan pendapat
2. Perspektif Sifat Manusia
Sifat manusia yang paling unik adalah kemampuan berfikir dan kemampuan menggunakan simbol. Menurut Aristoteles bahwa tindakan manusia yang benar-benar manusiawi adalah berasal dari seorang rasionalis yang sadar apa yang dilakukannya dan dengan bebas untuk memilih melakukannya.
Etika komunikasi dinilai dari criteria, berikut:
- Maksud si pembicara
- Sifat dari cara-cara yang diambil
- Keadaan yang mengiringi
Aristoteles menolak gagasan tujuan membenarkan cara apabila cara itu tidak etis. Jadi tujuan atau maksud yang baik tidak akan membenarkan penggunaan cara-cara komunikasi yang tidak etis.


3. Perspektif Dialogis
Dalam hubungan dialogis, sikap dan perilaku setiap partisipan komunikasi ditandai oleh kualitas, seperti kebersamaan, keterbukaan hati, kelangsungan, kejujuran, spontanitas, keterusterangan, tidak berpura-pura, niat yang tidak manipulatif, kerukunan, intensitas dan kasih saying dalam arti bertanggungjawab dari seorang manusia kepada manusia lainnya.
Thomas Nilsen mengatakan bahwa untuk mencapai komunikasi antar personal yang etis perlu dipupuk sikap-sikap berikut ini:
- Penghormatan terhadap seseorang sebagai person tanpa memandang umur, status, atau hubungan dengan pembicara.
- Penghormatan terhadap ide, perasaan, maksud, dan integritas orang lain.
- Sikap suka memperbolehkan, keobjektifan, dan keterbukaan pikiran, yang mendorong kebebasan berekspresi.
- Penghormatan terhadap bukti dan pertimbangan yang rasional terhadap berbagai alternatif.
- Terlebih dahulu mendengarkan dengan hati-hati bersimpati sebelum menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan.
John Mokay dan William Brown mendata sepuluh kondisi dialog yang dapat digunakan sebagai pedoman etika untuk menentukan sejauh mana sikap-sikap dialogis terungkap dalam transaksi komunikasi insani:

- Keterlibatan manusia dari kebutuhan yang dirasakan untuk berkomunikasi
- Suasana keterbukaan, kebebasan, dan pertanggungjawaban
- Berurusan dengan isu dan ide nyata yang relevan dengan komunikator
- Apresiasi terhadap perbedaan dan keunikan individual
- Penerimaan terhadap ketidaksetujuan dan konflik dengan keinginan untuk menyelesaikannya
- Umpan balik yang efektif
- Saling menghargai dan diharapkan saling mempercayai
- Ketulusan hati dan kejujuran dalam sikap terhadap komunikasi
- Sikap yang positif untuk pemahaman dan belajar
- Kemauan menerima kesalahan dan membiarkan persuasi
4. Perspektif Situasional
Faktor situasional atau kontekstual konkret yang mungkin relevan bagi penilaian etika yang murni situasional antara lain adalah:
- Peran atau fungsi komunikator terhadap khalayak
- Standar khalayak mengenai kelogisan dan kelayakan
- Derajat kesadaran khalayak tentang cara-cara komunikator
- Tingkat urgensi untuk pelaksanaan usulan komunikator
- Tujuan dan nilai khalayak
- Standar khalayak untuk komunikasi etis


5. Perspektif Religius
Kitab suci seperti Al-Qur’an, Injil dan Taurat dapat dipakai sebagai standar mengevaluasi etika komunikasi. Dalam kitab suci telah jelas tertulis apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh manusia. Biasanya sanksi dan pahala juga secara jelas tertulis, sehingga manusia dalam menaatinya sering karena merasa takut apabila melanggarnya.
6. Perspektif Utilitarian
Kriteria yang digunakan dalam menilai etika komunikasi adalah:
- Adanya kegunaan
- Adanya kesenangan
- Adanya kegembiraan
Perspektif utilitarian biasanya diterapkan dalam bentuk kombinasi dengan perspektif-perspektif lain. Konsep kegembiraan dari kaum utilitarian menjadi lebih luas sehingga mencakup nilai-nilai yang secara intrinsik berharga, seperti persahabatan, kesehatan dan pengetahuan.
7. Perspektif Legal
Perilaku komunikasi yang legal, yaitu yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dianggap perilaku komunikasi yang etis. Muncul persoalan, bagaimana dengan sesuatu yang legal itu sendiri?
Banyak orang merasa khawatir dengan pendekatan etika komunikasi murni legal ini. Ada banyak hal yang legal, tapi menurut etika sebenarnya diragukan.



Free Website Hosting

Free Website Hosting

0 komentar: