“PORNOGRAFI DALAM KOMIK” (ANALISIS ISI PORNOGRAFI DALAM KOMIK JEPANG BERJUDUL RANMA ½ DAN LOVE HINA)


abstraks:

Penelitian ini berjudul ”Pornografi Dalam Komik”(Analisis Isi pornografi Dalam Komik Jepang Berjudul Ranma ½ Dan Love Hina) Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah deskripsi tentang seberapa banyak gambar dan kalimat yang mengandung pornografi pada Komik Jepang berjudul Ranma ½ edisi 1-30 dan Love Hina 1-14.Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Dengan teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis isi kuantitatif yang melihat penggunaan kata dan gambar yang bermakna pornografi baik eksplisit maupun implisit, dimana analisis isi merupakan suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable) dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Sebagai suatu teknik penelitian, analisis isi mencakup prosedur-prosedur khusus untuk pemrosesan data ilmiah. Isi (content) merujuk pada kata, makna, gambar, simbol, ide atau gagasan, tema atau pesan komunikasi lainnya yang dapat dikomunikasikan, kata teks (text) adalah segala yang ditulis, visual atau melalui ujaran yang menjadi media komunikasi.

BAB 1
PENDAHULUAN1.1LATAR BELAKANG MASALAH
Globalisasi telah menyatukan umat manusia begitu dekat, ilmu pengetahuan dan teknologi membuat waktu dan tempat menjadi sangat relatif. Kebudayaan suatu negara kini dengan cepat menjadi kebudayaan suatu masyarakat di tempat lainnya. Globalisasi juga telah menciptakan sejumlah kemudahan yang tidak diperoleh pada masa lalu baik dalam bidang komunikasi, perdagangan, pendidikan, termasuk juga politik suatu negara.Pada sisi lain globalisasi telah melahirkan ekses yang tidak diharapkan, karena dalam proses globalisasi terbawa pula kebudayaan dan nilai-nilai asing yang tidak cocok bahkan mungkin bertentangan dengan kebudayaan nasional. Tidak jarang nilai-nilai yang tidak diharapkan tersebut melahirkan benturan kebudayaan sehingga mempengaruhi situasi sosial politik suatu masyarakat negara. Secara singkat dapat dikatakan bahwa globalisasi merupakan suatu kesempatan tetapi juga merupakan ancaman.Sebagai bagian dari masyarakat dunia tidak lepas dari fenomena tersebut. Salah satu ekses globalisasi yang sangat terasa adalah fenomena pornografi yang akhir-akhir ini menerpa dengan cepat dan mengambil korban tidak pandang bulu apakah manusia dewasa, orang tua, bahkan terutama anak-anak yang berusia amat belia.Pada masyarakat saat ini, dimana perkembangan teknologi informasi yang pesat dikarenakan globalisasi, membuat media massa menjadi bagian yang fungsional dalam masyarakat. Memang sebagai salah satu agen sosialisasi, media memiliki fungsi yang positif bagi masyarakat, tetapi setelah masyarakat masuk dalam era reformasi yang mendengung-dengungkan kebebasan berekspresi, beberapa media justru memiliki fungsi tersembunyi (latent), tak terkecuali dalam bacaan anak-anak dan remaja. Media massa tidak saja menjadi media masyarakat yang merefleksi kepentingan masyarakat secara luas, namun terpenting adalah media massa menjadi bagian dari institusi kapitalistik yang menyuarakan kepentingan pemilik kapital tertentu.Selain keluarga, sekolah, dan mainan, buku bacaan adalah salah satu hal lain yang melingkupi hidup anak-anak dan remaja. Jenis buku bacaan anak dan remaja tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, mempertahankan, serta menyebarluaskannya (dalam hal ini kepada anak-anak dan remaja). Sesuai dengan sasarannya, yaitu anak-anak, bacaan anak tentu pun dituntut untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari “bacaan orang dewasa” hingga dapat diterima anak dan dipahami mereka dengan baik.Saat ini bacaan anak dan remaja sudah sangat beragam. Penerbit-penerbit yang tertarik untuk menerbitkan bacaan anak dan remaja pun telah semakin banyak jumlahnya. Tema-tema yang ditawarkan kepada anak-anak dan remaja juga semakin bervariasi. Mulai dari dongeng, cerita fabel atau cerita binatang, cerita kehidupan sehari-hari, cerita fantasi, cerita misteri, dan cerita detektif dapat kita temukan di toko-toko buku.Dengan mengelompokkan bacaan-bacaan anak dan remaja tersebut berdasarkan asalnya, kita akan mendapatkan dua jenis bacaan anak dan remaja, yaitu bacaan lokal atau yang ditulis oleh penulis asli Indonesia, dan bacaan terjemahan yang merupakan hasil karya penulis asing atau merupakan hasil terjemahan dari karya berbahasa asing. Cerita-cerita yang ditawarkan oleh bacaan terjemahan harus diakui, saat ini bahkan lebih menarik minat anak-anak dan remaja dibandingkan cerita karya penulis Indonesia.Salah satu contoh mudah adalah komik. Komik seperti yang sudah kita kenal memang muncul sebagai sebuah bacaan yang sangat digemari anak-anak maupun remaja. Hal ini beralasan mengingat kemasan dan tampilan komik itu sendiri yang menarik. Komik memang berhubungan dengan gambar atau ilustrasi. Ilustrasi yang digunakan pun memang sangat menarik perhatian anak-anak dan remaja. Jenis cerita bergambar ini, sangat populer dan disukai anak-anak dan remaja.Peredaran buku komik di Indonesia saat ini dikuasai oleh komik Jepang atau manga. Menurut data buku Laris Pustakaloka Kompas, sejak tahun 2003 hingga kini, komik Jepang menempati urutan teratas lima besar Best seller. Ini membuktikan bahwa komik Jepang sangat digemari oleh masyarakat. Sejak tahun 1990-an, manga masuk ke Indonesia, tahun 2004 saja ada sekitar 70 judul komik dari Jepang yang diterjemahkan setiap bulannya. Saat ini sekitar 90% lebih komik terjemahan berasal dari sana. Komik-komik ini merajai toko-toko buku di kota besar (Kompas, Minggu 27 Juli 2008).Asisten peneliti pusat Studi Jepang, UI, Putri Andam Dewi mengatakan, produk budaya pop Jepang mudah diperoleh, temanya beragam dan menjangkau semua kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, remaja, orang tua, bahkan ibu-ibu RT (Kompas, Minggu 27 Juli 2008). Sedangkan menurut pengamat komik Indonesia, Seno Gumira Ajidarma (dalam http://www.kompascetak.com), ada beberapa faktor pendukung yang membuat manga mendominasi komik di Indonesia:1.Etnik, hubungan Jepang dengan Indonesia, dan budaya sebagai orang Asia karena yang terjadi di Indonesia sangat khas.2.Teknologi industri penerbitan yang memungkinkan manga diproduksi dan didistribusikan dengan sangat cepat.3.Kapital, karena penerbit berani menyediakan dana cukup besar untuk memproduksi manga, sementara ongkos mencetak manga murah. Ini karena manga cukup dicetak di kertas koran dengan tinta yang tidak mahal. Di sisi lain, media televisi dan cetak yang turut membantu tersebarnya manga dan pemutaran film-film anime (animasi khas Jepang) turut mendongkrak citra manga.Bacaan-bacaan terjemahan, seperti juga komik Jepang, saat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ada yang mengalami penyesuaian dengan kultur Indonesia, dan ada pula yang tidak. Penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan ini bisa dikatakan bertujuan “membersihkan” karya tersebut hingga menghasilkan sebuah karya yang layak dibaca anak-anak dan remaja. “Pembersihan” ini tidak hanya terbatas pada struktur kalimat, kelogisan dan ketidaklogisan, tetapi juga melingkupi tema-tema yang layak dan tidak layak diterbitkan.Salah satu hal yang tidak seharusnya didapati sebagai tema dalam bacaan anak dan remaja adalah pornografi. Namun fenomena pornografi ini juga dapat ditemukan di komik anak-anak dan remaja. Nyaris di setiap komik remaja Jepang (manga), terselip adegan yang mendebarkan (bahkan bagi orang dewasa). Menurut Ketua II, Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, Taty Elmir (dalam http://www.kompascetak.com), dari hasil survei Yayasan Kita & Buah Hati terhadap 1.264 siswa-siswi SD kelas 3 sampai kelas 6 se-Jabodetabek, pada Januari 2007-Januari 2008, komik memang pilihan tertinggi untuk mengakses pornografi, yakni sebanyak 23%, sedangkan games di komputer adalah sarana kedua tertinggi untuk mengakses pornografi, yakni 16%.Di Indonesia, sejak lima tahun belakangan mulai bermunculan manga bajakan yang sebenarnya memiliki rating 17 tahun ke atas. Manga-manga dewasa ini (yang kebanyakan melulu seks), dapat dengan mudah diakses segala kalangan, terutama anak di bawah umur maupun remaja. Bahkan komik-komik yang berasal dari penerbit legal pun saat ini banyak yang mengandung pornografi. Pornografi telah menyebar rata dalam manga (komik Jepang).Fenomena pornografi di media, tentu saja berhubungan dengan cara pandang masyarakat sendiri terhadap seksualitas yang secara faktual telah mengalami transformasi. Tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa anak-anak kecil pun saat ini telah sedemikian mudah untuk mengkonsumsi fenomena ketelanjangan tubuh ini dari yang illegal sampai legal sebagaimana banyak disuguhkan oleh media komik.Meskipun sudah banyak yang diberi label sesuai kategori usia, namun tak ada undang-undang yang mengatur peredaran dan censorship komik-komik Jepang yang beredar di Indonesia saat ini. Sistem kontrol masyarakat pun tidak ada, anak-anak SD dapat membelinya atau menyewanya di rental-rental komik dengan bebas. Si penjual, orang tua dan pemerintah tak mau peduli, dan yang paling parah adalah masih adanya anggapan bahwa komik adalah for kids.Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai pornografi dalam komik Jepang. Penelitian kali ini memfokuskan pada komik Jepang berjudul Ranma ½ dan Love Hina, karena Ranma 1/2 (diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, juga pernah diterbitkan bajakan/ilegalnya), dan Love Hina (diterbitkan oleh Dragon Production, sebagai penerbit ilegal, sekarang diterbitkan juga oleh penerbit legal yaitu Megindo), mampu mendobrak angka-angka penjualan fantastis yang sebelumnya belum pernah diraih oleh manga lain. Begitu pula dengan merchandise dari buku-buku tersebut menjadi tak terhitung lagi jumlahnya (http://anubis-room.blogdrive.com).1.2PERUMUSAN MASALAHBerdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan pokok permasalahan, ”Seberapa banyak kalimat dan gambar pornografi disajikan dalam komik jepang berjudul Ranma ½ dan Love Hina?”.1.3TUJUAN PENELITIANPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan seberapa banyak kalimat dan gambar pornografi disajikan dalam komik jepang berjudul Ranma ½ edisi 1-30 dan Love Hina edisi 1-14.
1.4PEMBATASAN MASALAHDalam upayanya untuk mendapatkan hasil yang mendalam dan memiliki fokus yang jelas, maka penelitian ini akan dibatasi dalam hal kalimat dan gambar pornografi dalam komik Jepang berjudul Ranma ½ edisi 1-30 dan Love Hina edisi 1-14.
1.5MANFAAT PENELITIANA.Manfaat TeoritisHasil penelitian dan penulisan skripsi ini diharapkan turut memperkaya penelitian dalam bidang Ilmu Komunikasi khususnya kajian Komunikasi Massa dengan aksentuasi pada pornografi dalam media. Dan juga memberikan manfaat berupa referensi bagi penelitian-penelitian serupa yang akan dilakukan dimasa mendatang.B.Manfaat PraktisSecara praktis penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat secara nyata kepada berbagai pihak, yakni:a.Pemerintah IndonesiaPenelitian ini diharapkan mampu memiliki signifikasi, yakni dapat dijadikan masukan untuk dapat memberikan pengawasan dan peraturan terhadap peredaran komik-komik di Indonesia.b.PenerbitPenelitian ini diharapkan mampu memberikan dorongan untuk lebih menyeleksi kata dan gambar yang terkandung dalam komik.c.Masyarakat IndonesiaBagi segenap masyarakat Indonesia dan orang tua pada khususnya, penelitian ini semoga dapat membangun kesadaran untuk lebih bersikap kritis terhadap pornografi dalam media khususnya komik.
BAB IITINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEPII.1 Tinjauan PustakaSebelumnya telah dilakukan penelitian oleh Muhammad Burhan, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Jurusan Sosiologi (2001) mengenai komik jepang yang berjudul ”Melacak Makna Dibalik Komik ( Analisis Semiotika Atas Teks-Teks Komik Jepang Tahun 1990-an) yang menyatakan bahwa lewat jalinan cerita dan gambar penulis, komik mengkonstruksi ide-ide dan gagasannya. Secara terselubung ide atau gagasan penulis merupakan hasil dari proses ”dialog” atau ”refleksi-sosial” dengan realitas sosial yang menjadi ”referensi” (back-ground sosialnya). Penelitian ini menghasilkan kesimpulan yakni, fenomena globalisasi dengan ideologi baru dalam proses produksinya yaitu konsumsi massa dengan media sebagai ”kekuatan utamanya” juga memberikan makna latent bagi keberadaan manga. Konsumsi massa telah menjadi ideologi dalam sistem produksi kontemporer. Hypermarket (perluasan pasar) menjadi konsekuensi (kepentingan) terselubung dari para produsen tanda kontemporer, tidak terkecuali komik. ”citra” kuat iklan pada akhirnya menjadi ”strategi utama” untuk mensukseskan ”proyek” ini, sehingga realitas tanda (termasuk teks komik) tidak bisa dilepaskan dari realitas ”citraan” yang berkembang pada masyarakat konsumer.Sementara penelitian tentang komik lainnya dilakukan oleh Rini Agustini Sutomo, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Jurusan Komunikasi (2007) dengan judul Realitas Sosial Dalam Komik (Analisis Komik Strip Timun Harian Pagi Kompas) yang menghasilkan kesimpulan bahwa representasi realitas sosial Indonesia dalam timun merupakan representasi realitas sosial artifisial melalui tanda-tanda visual, balon percakapan, serta anomatopea. Sebagai sebuah sistem tanda strip timun, merepresentasikan realitas sosial dari sudut pandang dua pihak yang dikritik. Dua sudut pandang demikian yang terimplisitkan dalam komik strip timun menunjukkan bahwa isi pesan timun merupakan kritikan kaum marjinal terhadap kinerja para penguasa baik aparat pemerintah maupun non pemerintah.Penelitian bertemakan pornografi dalam karya sastra salah satunya dilakukan oleh Maria Wurwidyaning (2004), mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UNSOED, Purwokerto, berjudul ”Motivasi Remaja Dalam Mengakses Situs Pornografi” dapat diketahui bahwa motivasi remaja mengakses situs tersebut dikarenakan sifat keingintahuan terhadap pornografi yang memang tidak diperoleh pada lingkungan sekolah, keluarga ataupun lingkungan dimana ia berinteraksi sosial dengan teman. Selain itu, pembatas yang merupakan anggapan sebagian orang bahwa pornografi tidak layak dikonsumsi remaja.Adapun perbedaan dari penelitian-penelitian tersebut dengan penelitian yang penulis teliti adalah penelitian peneliti menggunakan metode penelitian analisis isi kuantitatif, yang bertujuan untuk menggambarkan isi komunikasi dan mendukung studi efek komunikasi massa.II. 2 Kerangka Konsepa.Komik Sebagai Media Komunikasi MassaJauh sebelum komik muncul dalam bentuk buku sebagai media hiburan atau informasi, manusia telah menggunakan bahasa visual yang berturutan untuk menyampaikan suatu kisah. Ini dibuktikan dengan penemuan sebuah artefak berupa naskah bergambar pada tahun 1519, temuan Cortes yang kemudian diamati oleh Alfonso Caso, sejarawan dan arkeolog asal Mexico. Tetapi beratus-ratus tahun sebelum penemuan Cortes tersebut, Perancis telah menghasilkan karya hampir serupa, yaitu Permadani Bayeux. Kedua peninggalan tersebut memiliki ciri yang sama, yaitu tidak memiliki batasan yang tegas antar peristiwa, tetapi ada pembagian adegan yang jelas berdasarkan pokok peristiwa. Karena ketiadaan batas itulah keduanya tidak dapat disebut sebagai komik ( McCloud, 2002).Cikal bakal komik memang tidak dapat diketahui pasti kapan dan dimana, sebab nyaris semua bangsa di muka bumi menggunakan gambar sebagai bahasa visual yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan informasi. Jadi bisa dikatakan, seni murni yang menggunakan media gambar sebagai alat penyampai pesan merupakan cikal bakal komik. Dan penemuan mesin cetak di akhir abad XIX sangat berpengaruh pada perkembangan komik selanjutnya ( McCloud, 2002).Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia, yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyatunya. Dalam ”bahasa” komunikasi, pernyataan dinamakan pesan. Untuk tegasnya komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan, pesan ini terdiri dari dua aspek, pertama isi pesan, kedua lambang. Isi pesan itu adalah pikiran, lambang adalah bahasa (Effendi, 1993).Komunikasi merupakan sebuah fenomena pemenuhan kebutuhan hidup manusia, terutama kebutuhan sosial yang dibutuhkan oleh semua orang dari latar belakang kehidupan dan penghidupan manapun. Komunikasi didefinisikan sebagai proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai paduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, himbauan. Penyampaian pesan ini dilakukan seseorang kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung secara tatap muka maupun tak langsung melalui media, dengan tujuan mengubah sikap, pandangan, ataupun perilaku.Kemudian Effendi (1993) juga menyebutkan bahwa:”Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahukan atau untuk merubah sikap, pendapat, dan perilaku baik secara langsung maupun tidak langsung melalui media. Proses penyampaian pesan melalui media dimana komunikannya adalah khalayak dalam jumlah besar adalah komunikasi massa”.
Dalam proses komunikasi, simbol-simbol yang digunakan terdiri dari simbol-simbol verbal (lambang bahasa, baik lisan maupun tulisan) dan simbol-simbol non-verbal (gerak anggota tubuh, gambar, warna dan berbagai isyarat yang tidak termasuk kata-kata atau bahasa). Sebagai simbol non-verbal, gambar dapat dipergunakan untuk menyatakan pikiran atau perasaan. Pada masa pra sejarah sebelum tulisan ditemukan gambar dimanfaatkan sebagai media pendidikan dan transfer tradisi oleh suatu generasi ke generasi penerusnya.Kehadiran berbagai jenis media komunikasi informasi dimasa-masa sekarang ini secara umum bisa dikatakan menunjang berbagai kemudahan yang diinginkan oleh masyarakat. Apalagi saat ini banyak sekali produk media komunikasi massa yang dapat kita saksikan seperti komik. Komik sebagai sebuah media mempunyai karakteristik tersendiri, jika seorang perupa mengatakan “sebuah gambar adalah seribu kata-kata”, dan seorang sastrawan menimpali “sebuah kata adalah seribu gambar”. Maka komik memiliki keduanya, “kekuatan gambar” dan “kekuatan kata”.Paduan gambar dan tulisan yang merangkai alur cerita adalah kekuatan komik. Gambar membuat cerita komik lebih mudah diserap dan teks membuatnya lebih mudah dimengerti, sementara alur membuat pesan yang hendak disampaikan melalui komik dapat lebih mudah untuk diikuti dan diingat.Sebagai salah satu media komunikasi cetak khususnya yang dipublikasikan, komik juga memiliki karakteristik-karakteristik komunikasi massa (Effendy, 2000) sebagaimana yang dimiliki media massa lainnya, yaitu:a.Pesan yang disampaikan melalui media massa adalah terbuka untuk semua orang, tidak ada kerahasiaan didalamnya.b.Komunikasi bersifat heterogen.c.Keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator, dan penduduk tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah.d.Hubungan komunikator dan komunikan bersifat nonpribadi karena komunikan yang anonim dicapai oleh orang-orang yang dikenal hanya dalam peranannya yang bersifat umum sebagai komunikator.
Scott McCloud (2002) dalam bukunya Understanding Comics menjelaskan bahwa maestro komik Will Eisner mendefinisikan komik sebagai seni berturutan, dan Cloud sendiri mempertegas pemahaman tersebut dengan penjelasan bahwa komik adalah gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjuktaposisi dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya. Berdasar definisi tersebut, menurut Cloud, komik memanfaatkan ruang dalam media gambar untuk meletakkan gambar demi gambar sehingga membentuk suatu alur cerita yang utuh.Komik bisa menjadi media yang sangat efektif bagi tujuan-tujuan tertentu. Kini dapat kita jumpai komik-komik yang mencoba melatih kepekaan emosi dan sosial kita, seperti komik terbitan Mizan, atau komik ilmu pengetahuannya KPG. Tanpa kita sadari berbagai instruksi manual, brosur, dan iklan juga menggunakan bahasa rupa komik agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.Penggunaan media komik seperti contoh-contoh diatas, menyebarkan informasi, bisa dikatakan bahwa komik merupakan sebuah media komunikasi massa yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Selain menarik, pesan yang disampaikan dalam komik juga dirasakan lebih komunikatif, sehingga tanpa disadari, sebenarnya melalui komik pembaca digiring untuk memahami realitas sosial yang sebenarnya, yang biasa terjadi di lingkungan kita.
b.Ciri-ciri KomikPerbedaan antara komik dengan media massa lainnya menurut peneliti adalah bentuk penampilan komik. Komik tersusun dari panel-panel yang berisi pesan berupa gambar dan teks, walau memungkinkan pula hanya memunculkan gambar saja pada sebuah panel, bahkan sebuah panel saja dalam komik.Pada komik, terdapat minimal satu panel yang ’’menceritakan’ bahkan ’bersuara’ kepada pembaca. Panel merupakan ruang pada komik yang menampung berbagai tanda dalam bingkai (frame), yang memisahkan adegan-adegan atau peristiwa-peristiwa satu dengan lainnya. (McCloud, 2002) mengungkapkan, panel berfungsi sebagai petunjuk umum untuk waktu/ruang yang terpisah.Komik sebagai suatu bentuk media mempunyai /bahasa tersendiri dalam mengkomunikasikan pesannya kepada khalayak. Meski gambarnya tidak bergerak, namun mampu memberikan imajinasi kepada khalayaknya atas kisah atau situasi apa yang ingin ditampilkan komunikator (komikus). Menurut Bonneff (2001), ciri khas lain dari bentuk kesenian ini adalah membawa kita berimajinasi ke dalam alam yang berbeda dari alam kita atau ke dalam lingkungan sosial yang tidak akan pernah kita masuki.Tanda visual atau aspek grafis komik dapat dikatakan merupakan karakteristik komik yang paling dikenal masyarakat dan menjadi ciri khasnya. Dijelaskan pula oleh Rahayu S. Hidayat (dalam Sobur, 2003) bahwa bahasa komik terutama sekali adalah bahasa gambar karena komik hadir sebagai bahasa gambar dan teks. Namun demikian, McCloud (2002) menyatakan, komik tidak harus mengandung kata-kata. Gambar pada komik menggantikan pemerian panjang karena dapat mengantarkan pembaca pada berbagai realitas yang terkadang sulit untuk dibayangkan (Bonneff, 2001).Unsur grafis pada komik mampu ’menghidupkan’ suasana yang diinginkan komikusnya dan mampu menggantikan atau mewakili kata-kata, baik berupa dialog maupun narasi teksnya, sehingga mampu memunculkan dan mengarahkan imajinasi bagi pembacanya. Bahkan, sebuah komik mampu dipahami jalan ceritanya walau secara garis besarnya saja oleh anak-anak yang belum mampu membaca sekalipun, terutama komik-komik yang target audiensnya anak-anak. Memang benar bahwa gambar mampu mewakili seribu bahasa.Sedangkan bahasa teks yang berupa dialog-dialog, deskripsi maupun efek suara sebagai tanda verbal komik, dimunculkan secara singkat dan menarik. Semuanya merupakan narasi penyerta gambar atau teks narasi. Kata-kata penggambaran suara (anomatopea) merupakan salah satu unsur penting dari bahasa tersebut. Teks ini menirukan suara atau gerak yang selama ini tidak mungkin ditulis, seperti pedang beradu, gerimis, atau binatang, yang tak ada dalam kamus, dada kena tinju, dan sebagainya (Sobur, 2003).Menyoroti masalah bahasa gambar dan bahasa teks pada komik, Lonnie Martin (dalam Setianingsih, 2002), menyatakan sebagai berikut:”Komik sebagai salah satu bentuk pesan mempunyai bahasa tersendiri dalam mengkomunikasikan pesannya kepada khalayak. Didalam komik dapat ditemukan campuran seni visual, dialog dan story telling. Ketika membaca komik pembaca mendapatkan bentuk dan isi film, tanpa harus mengorbankan kebebasan imajinatif dari prosa. Dengan komik semua genre dapat menjadikan komik sebagai medium bercerita seperti drama, komedi, satir dan komentar sosial, sains fiksi dan sebagainya. Dalam logika yang dasar, komik merupakan serangkaian gambar yang saling dihubungkan oleh berbagai macam tema. Hubungan ini dapat terlihat jelas atau samar-samar tergantung pilihan pembuat komik.”c.PornografiPada tahun 1857, Oxford Dictionary memberikan pengertian pada kata pornografi sebagai “menulis soal pelacur”. Sedangkan Kamus Webster mendefinisikan pornografi adalah tulisan atau gambar yang dimaksudkan untuk membangkitkan nafsu seksual orang yang melihat atau membaca (jurnal perempuan, edisi 38 tahun 2004).Dengan kata lain, umumnya pengertian pornografi dapat diartikan sebagai materi yang dipresentasikan di media tertentu yang dapat atau ditujukan untuk membangkitkan hasrat seksual khalayak. Sebagaimana yang diungkapkan oleh H.B Jassin bahwa pornografi adalah setiap hasil tulisan atau gambar yang ditulis atau gambar dengan akibat untuk merangsang seksual. Pornografi menciptakan fantasi pembaca atau penonton menjadi bersayap ke daerah-daerah kelamin yang menyebabkan syahwat berkobar-kobar (Lesmana, 1995). Makin lama (seseorang) terekspos pada materi porno, besar kemungkinan makin intens rangsangan seksual yang ditimbulkannya (jurnal perempuan, edisi 38 tahun 2004).Menurut Jurisprudensi Mahkamah Agung RI sesuatu dikatakam porno jika kebanyakan anggota masyarakat menilai berdasarkan standar nilai yang berlaku saat itu materi tadi secara keseluruhan dapat membangkitkan nafsu rendah pembaca (Lesmana, 1995). Sedangkan menurut Dr. Arief Budiman pornografi adalah sesuatu yang berhubungan dengan persoalan-persoalan seksual yang tidak pantas diungkapkan secara terbuka kepada umum (Lesmana, 1995). Eric Sasono (Jurnal Perempuan, edisi 38 tahun 2004) menggambarkan muatan film yang masuk dalam kategori pornografi adalah gambar-gambar yang memperlihatkan alat kelamin (genetalia), aktivitas seksual (sexual intercourse) dan tubuh yang telanjang (full-frontal nuduty).Dari beberapa definisi yang ada diatas, terdapat kesamaan yang termaksud hal yang dikategorikan pornografi (dalam Lesmana, 1995):1.Yang dipermasalahkan pada pornografi adalah kemampuannya merangsang syahwat orang lain secara tidak wajar, tidak pada tempatnya dan tidak pada waktunya, sehingga bisa menimbulkan tindakan-tindakan seksual yang tidak wajar, tidak pada tempatnya dan tidak pada waktunya.2.Sifatnya yang terbuka, sehingga bisa dijangkau oleh semua kalangan masyarakat, termasuk anak-anak. Majalah, buku, Koran dijajakan secara terbuka.3.Unsur seks dalam pornografi semata-mata bersifat permainan (just for fun), tanpa diresapi oleh pandangan hidup yang mendalam dari hasil tinjauan filsafat dan ilmiah.4.Mengenai unsur kesengajaan, yang dipersoalkan disini adalah adalah penggambaran atau gaya yang tidak wajar untuk dipertontonkan kepada orang banyak, yakni yang secara sengaja menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu dari sang model, sedangkan tiap-tiap orang menyadari bahwa eksposur bagian-bagian tubuh wanita itu pasti akan membakar birahi seseorang yang melihatnya. Sifat kesengajaan untuk merangsang birahi orang lain dalam bentuk ketelanjangan atau eksposur bagian-bagina tertentu tubuh wanita (daerah yang memiliki rangsangan seksual tinggi bagi lawan jenis) yang menurut norma susila yang berlaku tidak pantas dipertontonkan secara umum, itulah hakiki dari pornografi.Masalah pornografi telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) (dalam Jurnal Perempuan, edisi 47 tahun 2006):1.Sengaja merusak kesopanan di muka umum, dan sengaja merusakkan kesopanan di muka orang lain yang hadir tidak dengan kemauannya sendiri.2.Menyiarkan, mempertontonkan atau menempelkan dengan terang-terangan tulisan yang diketahui isinya, atau gambar atau barang yang dikenalnya yang melanggar perasaan kesopanan, maupun membuat, membawa masuk, mengirimkan langsung, membawa keluar, atau menyediakan tulisan, gambar, atau barang itu untuk disiarkan, dipertontonkan, atau ditempelkan sehingga kelihatan oleh orang banyak, ataupun dengan berterangn-terangan, atau dengan menyiarkan surat, ataupun dengan berterang-terangan diminta atau menunjukkan bahan tulisan, gambar atau barang itu boleh didapat.3.Menjadikan kejahatan terhadap kesopanan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaannya.4.Menawarkan, menyerahkan untuk selama-lamanya atau sementara waktu, menyemapikan di tangan atau mempertunjukkan kepada orang yang belum dewasa yang diketahuinya atau patut disangkanya bahwa orang itu belum dewasa yang diketahuinya atau patut disangkanya belum cukup umurnya 17 tahun, tulisan, gambar, atau barang yang menyinggung kesopanan, jika isi surat itu diketahuinya atau jika gambar, barang dan cara itu diketahuinya.5.Di hadapan seseorang yang belum dewasa memperdengarkan isi surat (tulisan) yang melanggar perasaan kesopanan.6.Di muka umum menyanyikan lagu-lagu yang melanggar perasaan kesopanan.7.Di muka umum berpidato yang melanggar perasaan kesopanan.8.Di tempat yang dapat kelihatan dari jalan umum, mengadakan tulisan atau gambar yang melanggar perasaan kesopanan.9.Pada tempat yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum mempertunjukan atau menempelkan tulisan yang namanya (kepalanya), sampulnya (kulitnya), atau isinya yang terbaca itu dapat menimbulkan nafsu birahi anak-anak muda.10.Pada tempat yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum memperdengarkan isi tulisan yang dapat menimbulkan nafsu birahi anak-anak muda.11.Dengan terang-terangan atau tidak diminta, menawarkan tulisan, gambar, atau benda yang dapat menimbulkan nafsu birahi anak-anak muda, atau dengan terang-terangan atau dengan menyiarkan tulisan, tidak diminta menunjukan bahwa tulisan, gambar, atau benda itu dapat diperoleh.12.Menawarkan, memberikan untuk selama-lamanya atau untuk sementara waktu, menyerahkan atau memperlihatkan tulisan, gambar atau benda demikian kepada seseorang yang belum dewasa, dibawah umur 17 tahun.13.Memperdengarkan isi tulisan demikian di muka seorang yang belum dewasa, di bawah umur 17 tahun.Sedangkan muatan-muatan seksual menurut Lembaga Sensor Film (LSF) (dalam Jurnal Perempuan, edisi 38 tahun 2006) mempunyai kriteria-kriteria penyensoran muatan seksual, yaitu:1.Penolakan secara utuh terhadap penonjolan adegan seks lebih dari 50%.2.Orang telanjang bulat, atau berkesan demikian baik dilihat dari depan, samping atau belakang.3.Close-up terhadap alat vital, buah dada, paha atau pantat dengan atau tanpa penutup.4.Ciuman yang merangsang, berlainan atau sesama jenis.5.Gerakan atau suara persenggamaan, manusia atau hewan, terang- terangan maupun terselubung.6.Gerakan onani, lesbian, homo, atau oral seks.7.Adegan melahirkan, manusia maupun hewan yang menimbulkan berahi.8.Menampilkan alat kontrasepsi yang tidak pada tempatnya.9.Adegan yang menimbulkan kesan tidak etis.Dari kalangan agama, tahun 2001, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang secara tegas memberi batasan tentang pornografi:1.Menggambarkan secara langsung maupun tidak langsung tingkah laku secara erotis, baik dengan lukisan, gambar, suara, reklame, iklan, ucapan baik melalui media cetak maupun elektronik yang dapat membangkitkan nafsu birahi adalah haram.2.Membiarkan aurat terbuka dan atau berpakaian ketat atau tembus pandang dengan maksud untuk mengambil gambarnya baik untuk dicetak maupun divisualisasikan adalah haram.3.Melakukan pengambilan gambar sebagaimana dimaksud no. 2 adalah haram.4.Melakukan hubungan seksual atau adegan seksual dihadapan orang, melakukan pengambilan gambar hubungan seksual atau adegan seksual, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain dan melihat hubungan seksual atau adegan seksual tersebut adalah haram.5.Memperbanyak, mengedarkan, menjual, membeli dan melihat atau memperlihatkan gambar orang baik cetak maupun visual yang terbuka auratnya atau berpakaian ketat dan tembus pandang yang dapat membangkitkan nafsu birahi atau gambar hubungan seksual atau adegan seksual adalah haram.6.Berbuat intim atau berdua-duaan antara laki-laki dan perenpuan yang bukan mahramnya dan perbuatan sejenis lainnya yang mendekati dan atau mendorong melakukan hubungan seksual atau adegan seksual adalah haram.7.Memperlihatkan aurat, yakni bagian tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki dan bagian tubuh selain muka, telapak tangan dan telapak kaki bagi perempuan adalah haram, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan syar’i.8.Memakai pakaian tembus pandang atau ketat yang dapat memperlihatkan lekuk tubuh adalah haram.9.Melakukan suatu perbuatan dan atau suatu ucapan yang dapat mendorong terjadinya hubungan seksual di luar pernikahan atau perbuatan haram sebagaimana dimaksud no. 6 adalah haram.10.Membantu dengan segala bentuknya dan atau membiarkan tanpa pengingkaran perbuatan-perbuatan yang diharankan di atas adalah haram.11.Memperoleh uang, manfaat atau fasilitas dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di atas adalah haram.Sementara itu bagi kaum feminis. Pornografi tidak hanya didefinisikan sebagai ekspresi seksualitas dan sensualitas yang berhubungan dengan sex seronok saja. Mewakili kaum feminis, Andrea Dworkin dan Catherine McKinon (dalam jurnal perempuan edisi 38: 2004), menawarkan definisi legal pornografi sebagai:“Penggambaran tegas perendahan perempuan secara seksual melalui gambar dan atau perkataan dan di dalamnya termasuk perempuan yang didehumanisasi serta diobjekkan sebagai seseorang sedang menikmati kesakitan, perendahan martabat, maupun perkosaan dalam konteks yang membuat kondisi-kondisi ini menjadi seksual”.Konsep dasar dalam definisi ini adalah subordinasi perempuan dan melihat pornografi dengan argumentasi hak-hak perempuan. Menurut mereka, semua bentuk pornografi merendahkan perempuan dan dengan melapangkan jalan bagi kekerasan terhadap perempuan.Dari definisi diatas juga menyebutkan bahwa pornografi harus mempunyai muatan untuk merangsang secara seksual. Padahal pada kenyatannya justru batasan itulah yang sering diperdebatkan oleh orang-orang dengan alasan setiap orang akan berbeda reaksinya terhadap materi seksual yang mampu membuatnya terangsang.Pada umumnya, batasan terangsang secara seksual ukurannya adalah daya rangsang pada orang normal. Bagi kebanyakan pria normal, gambar-gambar wanita cantik mengenakan bikini di media hampir pasti merangsang pembacanya. Begitu juga dengan adegan ranjang di film-film, ketelanjangan atau poster-poster. Yang pasti, para kreator yang berada di balik materi-materi tersebut tentu secara sadar berniat dan bertujuan untuk merangsang khalayaknya. Dalam batasan ini terdapat juga pengecualian yaitu ada orang yang sangat mudah sekali terangsang walaupun hanya dengan melihat betis wanita saja. Tetapi ada juga orang yang tidak terangsang sama sekali. Jadi sangatlah manusia jika seseorang menjadi terangsang setelah mengkonsumsi pornografi. Karena muatan seks di media memang dirancang khusus untuk merangsang orang normal pada umumnya.
II.3 DEFINISI KONSEPTUAL DAN DEFINISI OPERASIONALa.Definisi Konseptuala.1 PornografiMenurut H.B Jassin (dalam jurnal perempuan edisi 38, tahun 2004), pornografi adalah setiap hasil tulisan atau gambar yang ditulis atau gambar dengan akibat merangsang seksual.a.2 KomikKomik adalah gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjuktaposisi dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya (McCLoud, 2002).
b.Definisi Operasionalb.1 PornografiBerdasarkan definisi konsep, penulis mengambil indikator-indikator pornografi antara lain:a.Gambar :1.Tubuh yang telanjang atau berkesan telanjang baik dilihat dari depan, samping atau belakang2.Close up alat vital dengan atau tanpa penutup3.Close up buah dada dengan atau tanpa penutup4.Close up paha atau pantat dengan atau tanpa penutup5.Ciuman yang merangsang, berlainan atau sesama jenis6.Onani7.Homoseksual8.Lesbian9.Adegan seks10.Pakaian yang merangsang11.Adegan yang menimbulkan kesan tidak etisa.Kalimat :1.Kalimat Menyebutkan organ tubuh yang vital seperti, alat vital, buah dada, paha atau pantat.2.Kalimat yang menimbulkan kesan tidak etis3.Kalimat yang mengarah pada hubungan seksualSehingga sebuah komik dianggap porno ketika komik tersebut mengandung kalimat-kalimat atau gambar-gambar yang mengarah pada indikator-indikator di atas. Kalimat-kalimat atau gambar-gambar yang porno di sini bisa eksplisit maupun implisit.b.2 KomikKomik adalah gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjuktaposisi dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya (McCLoud, 2002). Dalam penelitian ini gambar-gambar serta lambang-lambang ataupun kalimat dalam komik yang dimaksud adalah gambar-gambar, lambang-lambang ataupun kalimat yang mengandung pornografi dalam komik Jepang.
selenkapnya klik di : “PORNOGRAFI DALAM KOMIK” (ANALISIS ISI PORNOGRAFI DALAM KOMIK JEPANG BERJUDUL RANMA ½ DAN LOVE HINA)
View
clicks
Posted April 7th, 2009 by aeconomic.love

abstraks:
Penelitian ini berjudul ”Pornografi Dalam Komik”(Analisis Isi pornografi Dalam Komik Jepang Berjudul Ranma ½ Dan Love Hina) Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah deskripsi tentang seberapa banyak gambar dan kalimat yang mengandung pornografi pada Komik Jepang berjudul Ranma ½ edisi 1-30 dan Love Hina 1-14.Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Dengan teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis isi kuantitatif yang melihat penggunaan kata dan gambar yang bermakna pornografi baik eksplisit maupun implisit, dimana analisis isi merupakan suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable) dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Sebagai suatu teknik penelitian, analisis isi mencakup prosedur-prosedur khusus untuk pemrosesan data ilmiah. Isi (content) merujuk pada kata, makna, gambar, simbol, ide atau gagasan, tema atau pesan komunikasi lainnya yang dapat dikomunikasikan, kata teks (text) adalah segala yang ditulis, visual atau melalui ujaran yang menjadi media komunikasi.
BAB 1PENDAHULUAN1.1LATAR BELAKANG MASALAHGlobalisasi telah menyatukan umat manusia begitu dekat, ilmu pengetahuan dan teknologi membuat waktu dan tempat menjadi sangat relatif. Kebudayaan suatu negara kini dengan cepat menjadi kebudayaan suatu masyarakat di tempat lainnya. Globalisasi juga telah menciptakan sejumlah kemudahan yang tidak diperoleh pada masa lalu baik dalam bidang komunikasi, perdagangan, pendidikan, termasuk juga politik suatu negara.Pada sisi lain globalisasi telah melahirkan ekses yang tidak diharapkan, karena dalam proses globalisasi terbawa pula kebudayaan dan nilai-nilai asing yang tidak cocok bahkan mungkin bertentangan dengan kebudayaan nasional. Tidak jarang nilai-nilai yang tidak diharapkan tersebut melahirkan benturan kebudayaan sehingga mempengaruhi situasi sosial politik suatu masyarakat negara. Secara singkat dapat dikatakan bahwa globalisasi merupakan suatu kesempatan tetapi juga merupakan ancaman.Sebagai bagian dari masyarakat dunia tidak lepas dari fenomena tersebut. Salah satu ekses globalisasi yang sangat terasa adalah fenomena pornografi yang akhir-akhir ini menerpa dengan cepat dan mengambil korban tidak pandang bulu apakah manusia dewasa, orang tua, bahkan terutama anak-anak yang berusia amat belia.Pada masyarakat saat ini, dimana perkembangan teknologi informasi yang pesat dikarenakan globalisasi, membuat media massa menjadi bagian yang fungsional dalam masyarakat. Memang sebagai salah satu agen sosialisasi, media memiliki fungsi yang positif bagi masyarakat, tetapi setelah masyarakat masuk dalam era reformasi yang mendengung-dengungkan kebebasan berekspresi, beberapa media justru memiliki fungsi tersembunyi (latent), tak terkecuali dalam bacaan anak-anak dan remaja. Media massa tidak saja menjadi media masyarakat yang merefleksi kepentingan masyarakat secara luas, namun terpenting adalah media massa menjadi bagian dari institusi kapitalistik yang menyuarakan kepentingan pemilik kapital tertentu.Selain keluarga, sekolah, dan mainan, buku bacaan adalah salah satu hal lain yang melingkupi hidup anak-anak dan remaja. Jenis buku bacaan anak dan remaja tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, mempertahankan, serta menyebarluaskannya (dalam hal ini kepada anak-anak dan remaja). Sesuai dengan sasarannya, yaitu anak-anak, bacaan anak tentu pun dituntut untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari “bacaan orang dewasa” hingga dapat diterima anak dan dipahami mereka dengan baik.Saat ini bacaan anak dan remaja sudah sangat beragam. Penerbit-penerbit yang tertarik untuk menerbitkan bacaan anak dan remaja pun telah semakin banyak jumlahnya. Tema-tema yang ditawarkan kepada anak-anak dan remaja juga semakin bervariasi. Mulai dari dongeng, cerita fabel atau cerita binatang, cerita kehidupan sehari-hari, cerita fantasi, cerita misteri, dan cerita detektif dapat kita temukan di toko-toko buku.Dengan mengelompokkan bacaan-bacaan anak dan remaja tersebut berdasarkan asalnya, kita akan mendapatkan dua jenis bacaan anak dan remaja, yaitu bacaan lokal atau yang ditulis oleh penulis asli Indonesia, dan bacaan terjemahan yang merupakan hasil karya penulis asing atau merupakan hasil terjemahan dari karya berbahasa asing. Cerita-cerita yang ditawarkan oleh bacaan terjemahan harus diakui, saat ini bahkan lebih menarik minat anak-anak dan remaja dibandingkan cerita karya penulis Indonesia.Salah satu contoh mudah adalah komik. Komik seperti yang sudah kita kenal memang muncul sebagai sebuah bacaan yang sangat digemari anak-anak maupun remaja. Hal ini beralasan mengingat kemasan dan tampilan komik itu sendiri yang menarik. Komik memang berhubungan dengan gambar atau ilustrasi. Ilustrasi yang digunakan pun memang sangat menarik perhatian anak-anak dan remaja. Jenis cerita bergambar ini, sangat populer dan disukai anak-anak dan remaja.Peredaran buku komik di Indonesia saat ini dikuasai oleh komik Jepang atau manga. Menurut data buku Laris Pustakaloka Kompas, sejak tahun 2003 hingga kini, komik Jepang menempati urutan teratas lima besar Best seller. Ini membuktikan bahwa komik Jepang sangat digemari oleh masyarakat. Sejak tahun 1990-an, manga masuk ke Indonesia, tahun 2004 saja ada sekitar 70 judul komik dari Jepang yang diterjemahkan setiap bulannya. Saat ini sekitar 90% lebih komik terjemahan berasal dari sana. Komik-komik ini merajai toko-toko buku di kota besar (Kompas, Minggu 27 Juli 2008).Asisten peneliti pusat Studi Jepang, UI, Putri Andam Dewi mengatakan, produk budaya pop Jepang mudah diperoleh, temanya beragam dan menjangkau semua kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, remaja, orang tua, bahkan ibu-ibu RT (Kompas, Minggu 27 Juli 2008). Sedangkan menurut pengamat komik Indonesia, Seno Gumira Ajidarma (dalam http://www.kompascetak.com), ada beberapa faktor pendukung yang membuat manga mendominasi komik di Indonesia:1.Etnik, hubungan Jepang dengan Indonesia, dan budaya sebagai orang Asia karena yang terjadi di Indonesia sangat khas.2.Teknologi industri penerbitan yang memungkinkan manga diproduksi dan didistribusikan dengan sangat cepat.3.Kapital, karena penerbit berani menyediakan dana cukup besar untuk memproduksi manga, sementara ongkos mencetak manga murah. Ini karena manga cukup dicetak di kertas koran dengan tinta yang tidak mahal. Di sisi lain, media televisi dan cetak yang turut membantu tersebarnya manga dan pemutaran film-film anime (animasi khas Jepang) turut mendongkrak citra manga.Bacaan-bacaan terjemahan, seperti juga komik Jepang, saat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ada yang mengalami penyesuaian dengan kultur Indonesia, dan ada pula yang tidak. Penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan ini bisa dikatakan bertujuan “membersihkan” karya tersebut hingga menghasilkan sebuah karya yang layak dibaca anak-anak dan remaja. “Pembersihan” ini tidak hanya terbatas pada struktur kalimat, kelogisan dan ketidaklogisan, tetapi juga melingkupi tema-tema yang layak dan tidak layak diterbitkan.Salah satu hal yang tidak seharusnya didapati sebagai tema dalam bacaan anak dan remaja adalah pornografi. Namun fenomena pornografi ini juga dapat ditemukan di komik anak-anak dan remaja. Nyaris di setiap komik remaja Jepang (manga), terselip adegan yang mendebarkan (bahkan bagi orang dewasa). Menurut Ketua II, Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, Taty Elmir (dalam http://www.kompascetak.com), dari hasil survei Yayasan Kita & Buah Hati terhadap 1.264 siswa-siswi SD kelas 3 sampai kelas 6 se-Jabodetabek, pada Januari 2007-Januari 2008, komik memang pilihan tertinggi untuk mengakses pornografi, yakni sebanyak 23%, sedangkan games di komputer adalah sarana kedua tertinggi untuk mengakses pornografi, yakni 16%.Di Indonesia, sejak lima tahun belakangan mulai bermunculan manga bajakan yang sebenarnya memiliki rating 17 tahun ke atas. Manga-manga dewasa ini (yang kebanyakan melulu seks), dapat dengan mudah diakses segala kalangan, terutama anak di bawah umur maupun remaja. Bahkan komik-komik yang berasal dari penerbit legal pun saat ini banyak yang mengandung pornografi. Pornografi telah menyebar rata dalam manga (komik Jepang).Fenomena pornografi di media, tentu saja berhubungan dengan cara pandang masyarakat sendiri terhadap seksualitas yang secara faktual telah mengalami transformasi. Tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa anak-anak kecil pun saat ini telah sedemikian mudah untuk mengkonsumsi fenomena ketelanjangan tubuh ini dari yang illegal sampai legal sebagaimana banyak disuguhkan oleh media komik.Meskipun sudah banyak yang diberi label sesuai kategori usia, namun tak ada undang-undang yang mengatur peredaran dan censorship komik-komik Jepang yang beredar di Indonesia saat ini. Sistem kontrol masyarakat pun tidak ada, anak-anak SD dapat membelinya atau menyewanya di rental-rental komik dengan bebas. Si penjual, orang tua dan pemerintah tak mau peduli, dan yang paling parah adalah masih adanya anggapan bahwa komik adalah for kids.Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai pornografi dalam komik Jepang. Penelitian kali ini memfokuskan pada komik Jepang berjudul Ranma ½ dan Love Hina, karena Ranma 1/2 (diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, juga pernah diterbitkan bajakan/ilegalnya), dan Love Hina (diterbitkan oleh Dragon Production, sebagai penerbit ilegal, sekarang diterbitkan juga oleh penerbit legal yaitu Megindo), mampu mendobrak angka-angka penjualan fantastis yang sebelumnya belum pernah diraih oleh manga lain. Begitu pula dengan merchandise dari buku-buku tersebut menjadi tak terhitung lagi jumlahnya (http://anubis-room.blogdrive.com).1.2PERUMUSAN MASALAHBerdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan pokok permasalahan, ”Seberapa banyak kalimat dan gambar pornografi disajikan dalam komik jepang berjudul Ranma ½ dan Love Hina?”.1.3TUJUAN PENELITIANPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan seberapa banyak kalimat dan gambar pornografi disajikan dalam komik jepang berjudul Ranma ½ edisi 1-30 dan Love Hina edisi 1-14.
1.4PEMBATASAN MASALAHDalam upayanya untuk mendapatkan hasil yang mendalam dan memiliki fokus yang jelas, maka penelitian ini akan dibatasi dalam hal kalimat dan gambar pornografi dalam komik Jepang berjudul Ranma ½ edisi 1-30 dan Love Hina edisi 1-14.
1.5MANFAAT PENELITIANA.Manfaat TeoritisHasil penelitian dan penulisan skripsi ini diharapkan turut memperkaya penelitian dalam bidang Ilmu Komunikasi khususnya kajian Komunikasi Massa dengan aksentuasi pada pornografi dalam media. Dan juga memberikan manfaat berupa referensi bagi penelitian-penelitian serupa yang akan dilakukan dimasa mendatang.B.Manfaat PraktisSecara praktis penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat secara nyata kepada berbagai pihak, yakni:a.Pemerintah IndonesiaPenelitian ini diharapkan mampu memiliki signifikasi, yakni dapat dijadikan masukan untuk dapat memberikan pengawasan dan peraturan terhadap peredaran komik-komik di Indonesia.b.PenerbitPenelitian ini diharapkan mampu memberikan dorongan untuk lebih menyeleksi kata dan gambar yang terkandung dalam komik.c.Masyarakat IndonesiaBagi segenap masyarakat Indonesia dan orang tua pada khususnya, penelitian ini semoga dapat membangun kesadaran untuk lebih bersikap kritis terhadap pornografi dalam media khususnya komik.

0 komentar: